Suasana yang dingin ditingkahi kekakuan lidahku. Terasa sangat kelu. Tak ada topik untuk dibicarakan. Dia sendiri sedang sibuk main HP, entah apa yang dibukanya. Kami duduk di kursi berbeda dengan beberapa orang karyawati di belakang. Suara perbincangan kami tidak akan terdengar jelas di telinga mereka. Terlihat satu dua pembeli datang. Kuseruput kopi panas itu untuk menyulut keberanian.
“Enak sekali kopinya,” celetukku. Semoga didengarnya.

Naas, dia tidak menyahut hingga beberapa saat.
“Nggak kepahitan Mas?” tanyanya beberapa menit kemudian. Aku sedikit lega.
“Nggak, Ning. Pahit pun akan terasa manis jika diseduh oleh cewek manis sepertimu,” aku berseloroh dengan kalimat menggombal yang pasti sudah terdengar basi di telinganya.
Diluar dugaan, dia tertawa lirih. Dan terlihat manis sekali di mataku.
“Berapa perempuan yang telah takluk dengan gombalanmu, Mas?”
Aku semakin meleleh.
“Sepertinya baru satu ini,” jawabku sambil tertawa. Dia juga tertawa. Dadaku semakin kebat-kebit. Sepertinya aku akan mendapat durian runtuh hari ini. Aku akan menjadi orang paling beruntung di dunia fana ini, semoga di akhirat juga, nanti.
“Jujur saja aku belum pernah nggombali cewek. Dan kuberanikan diriku mengungkapkannya di depanmu. Maukah kamu jadi milikku?”
Aku menanti jawabannya dengan tubuh gemetar. Kulihat air mukanya terkejut, seolah tak percaya dengan ucapanku.
“Mas Mujib pandai berkelakar juga ternyata,” sahutnya.
“Maaf, Ning. Aku serius. Mungkin aku terlihat bodoh di hadapanmu. Tapi,,,”
“Mas Mujib belum tahu?” tanyanya.
Pikiranku bertanya-tanya menerka apa ucapannya yang akan dilontarkan padaku. Aku telah menyiapkan mental untuk mendengarnya.
“Aku tunangan Gus Jakfar, juraganmu.”
Mataku nanar seketika. Kutelan ludahku dengan kasar. Dan sulit sekali lidahku kugerakkan untuk merangkai kata.
“Owh, begitu. Maaf, Ning, aku telah lancang berbicara. Saya mau pamit dulu,” ucapku kemudian.
“Masih hujan, Mas Mujib. Maaf jika…”
“Tidak apa-apa, Ning. Mondokku sudah lama, tak perlu takut basah oleh hujan.”
“Aku hanya takut basah oleh air mata,” ucapku dalam hati.
“Oh. Iya kalau begitu.”
Aku lantas melangkah dengan gontai.
