Di antara kelebihan-kelebihannya, suara emasnya adalah yang paling membuatku tertarik. Suaranya selalu bisa menghipnotis para pendengar. Dan hal paling membahagiakan serta melambungkan asa dalam hidupku adalah dia pernah menge-like kaligrafi yang pernah kuunggah di IG. Padahal dia tidak mengikuti akun IG-ku. Mungkin karena kami sama-sama sering komentar di postingan IG Pondok Kahfi sehingga dia pernah menelusuri akunku. Dan di situlah letak kebahagiaanku. Seorang Ning Bibah yang begitu menyilaukan pesonanya ternyata pernah melirik seorang rakyat jelata seperti aku ini.
Suatu malam aku sengaja tidak pulang ke pondok karena mengerjakan beberapa tugas kuliah yang sudah hampir deadline. Jemariku mulai terasa pegal karena mengetik makalah yang cukup panjang. Kuraih HP yang teronggok di meja. Kuseruput kopi dan kunyalakan rokok. Lalu kubuka IG dan aku scroll naik serta turun melihat kabar terbaru dari berbagai sudut kehidupan dari akun-akun media online. Mataku segera sibuk melihat postingan-postingan kulinar dari teman-teman kampus dan membaca kata-kata mutiara dari para ulama yang dijadikan postingan oleh beberapa akun toko buku online. Banyak juga foto gadis cantik yang menggunakan caption mellow dan patah hati. Melihat kegundahan hidup orang lain ternyata dapat menenteramkan hati. Busuk benar hatiku ini, bahagia memandang mereka yang nelangsa! Hatiku tiba-tiba berisik sendiri.

Lalu kutemukan sebuah unggahan foto seorang gadis cantik yang background-nya memancing perhatianku. Ning Bibah sedang berselfi di kafe tempatku bekerja dengan menampilkan kaligrafi yang kuukir beberapa hari yang lalu. “Kamu adalah budak dari apa yang kamu cintai” adalah caption-nya, ditulis sebagai terjemahan dari kaligrafi itu , dan seketika memancing senyumku.
Ternyata hasil kaligrafiku memancing peminat. Foto itu mendapat lebih dari seribu like dan puluhan komentar. Rasa bangga tak dapat kuhindari. Aku stalking akun IG gadis itu. Dan rasaku semakin terhanyut olehnya. Sayang, kami bagaikan langit dan sumur kering. Kama baina sama’ wa sumuri sat. Dia putri seorang kiai besar, sedang aku putra seorang hansip tak berpangkat. Tidak kufu! Tapi foto itu menyalakan asaku.
Aku mengiriminya pesan melalui DM di IG. “Cie, fotonya manis dan laris.”
Tak berapa lama kemudian, DM-ku dia baca. Dadaku berdesir. Lantas kulihat Ning Bibah mengetik pesan balasan. Rasa kantuk yang mulai menghinggapi mataku seketika menghilang.
“Terimakasih, Mas, kaligrafinya pasti akan jadi hits bentar lagi,” jawabnya.
“Tentu saja karena di-endorse artis,” aku membalas dengan kusertai emoticon tertawa.
Dia membalas dengan emoticon tertawa juga.
“Boleh minta tolong buatin kaligrafi di butik?”
Pertanyaan itu membuatku tercenung. Apa benar kaligrafiku sebagus itu sehingga dia memintaku membuat kaligrafi di butik miliknya? Haruskah kesempatan ini kusia-siakan? Bagaimana kalau hasilnya nanti mengecewakan?
“Butik?” tegasku memastikan aku tidak salah paham.
“Bukan.” Ning Bibah menjawab cepat.
“Apa?” sahutku berikutnya. Rasa penasaran semakin menjadi-jadi.
“Pak Tik. Ayahnya Tik dan Tok,” jawabnya disertai emoticon menyemburkan api melalui hidung. Aku terpingkal-pingkal dan kukirimkan emoticon tertawa berguling-guling.
“Iya, butik punyaku yang tidak jauh dari kampus itu. Sudah tahu belum? Katanya kamu tahu banyak tentang aku. Dikasih kaligrafi biar makin berkesan. Mau ya, plisss?” pintanya lagi.
Aku meleleh dan akhirnya permintaan itu kusanggupi dengan satu syarat jika diizinkan Mas Jakfar, bosku di kafe. Beberapa hari kemudian aku telah mengantongi izin dari bosku untuk tidak ke kafe selama membuat kaligrafi di butik Ning Bibah. Mas Jakfar memberiku izin, karena dari kaligrafi yang diunggah Ning Bibah itu, kafenya semakin banyak didatangi pengunjung. Desainnya yang sedari awal sudah bagus menjadi semakin instragammable. Tidak hanya minum kopi sambil wifi-an, para pemuda itu juga menyempatkan berselfi di sana.
Sore sebelum pulang ke pesantren aku menyempatkan diri mampir ke butik Ning Bibah untuk cek lokasi. Gadis yang senang disebut sebagai santripeneur itu memang tidak main-main dalam memintaku membuat kaligrafi. Dia memaparkan keinginannya, bahwa butik sederhana itu dihias sedemikian rupa agar terkesan menarik.
“Ditulisi apa, Ning?”
“Terserah kamu. Pilihan kalimatmu kan bagus-bagus.”
“Baik, nanti saya cari-cari dulu, Ning.”
Aku pulang dengan isi kepala dipenuhi pikiran kaligrafi, dan tentu saja wajah cantik gadis cerdas itu. Dan hingga larut malam belum juga kudapatkan inspirasi tulisan kaligrafi yang kuinginkan. Keesokan harinya, aku WA dia untuk mendiskusikan quote kaligrafi. Karena sama-sama tidak punya ide, dia kemudian menyarankan supaya menulis ayat kursi. Aku menyanggupinya. Hari itu juga aku mulai mengerjakannya. Tidak cukup dua hari untuk menyelesaikannya karena hanya kukerjakan sepulang kuliah. Selama dua hari itu aku semakin dekat dengannya. Kami ngobrol tentang banyak hal seputar dunia santri dan dunia kampus dan juga dunia fana ini.
Hari ketiga membuat kaligrafi adalah hari terakhir. Tiga hari terasa begitu cepat bagiku. Diam-diam hatiku terasa berat akan segera meninggalkannya. Untung saja ketika hendak pulang aku ditahan oleh hujan yang turun dengan deras. Dia memberiku segelas kopi panas. Tentu saja kami melanjutkan obrolan yang kurasa masih kurang. Rasanya aku harus mengatakan sesuatu. Kesempatan emas ini mungkin tidak akan datang untuk yang kedua kalinya. Aku tidak boleh membiarkannya berlalu begitu saja karena selama di sini aku merasakan sinyal-sinyal itu terpancar darinya. Walau ini berat, lebih baik malu daripada menyesal seumur hidup.
