Sayangnya, di Indonesia hari ini tidak ada kecoak seperti halnya di India. Padahal, banyak penguasa di sini bertingkah seperti halnya Surya Kant. Ungkapan “jelata”, “ndasmu”, “antek”, atau “londo ireng” dari mulut penguasa tak ubahnya seperti tudingan “kecoak” oleh Surya Kant yang ditujukan kepada kaum muda India. Merendahkan. Menghinakan.
Coba kita periksa ungkapan Surya Kant yang membuat anak-anak muda India marah. “Ada anak-anak muda seperti kecoak, yang tidak mendapatkan pekerjaan atau memiliki tempat dalam profesi ini. Beberapa dari mereka menjadi media, beberapa dari mereka menjadi media sosial, aktivis RTI dan aktivis lainnya, dan mereka mulai menyerang semua orang.”

Lalu mari kita bandingkan dengan ungkapan senada dari penguasa negeri ini: “Londo-londo ireng ini sampai sekarang masih ada. Hanya dia sekarang pakai baju lain. Wartawan, jurnalis, pengamat, LSM.”
Dua kutipan tersebut menggambarkan betapa kuatnya kecenderungan kekuasaan menjadi antikritik bahkan di negara demokrasi sekalipun. Padahal, sejatinya, demokrasi menyediakan ruang bagi suara-suara yang berbeda. Demokrasi juga menyediakan mekanisme untuk saling mengontrol dan mengingatkan. Sebab, demokrasi memang tidak menempatkan penguasa sebagai Tuhan, pemilik mutlak kebenaran.
