Dengan memahami inti yang tak berubah, kita bisa merayakan keragaman busana muslim tanpa merasa terancam. Seorang santri dengan sarungnya, seorang eksekutif dengan jasnya, atau seorang mahasiswa dengan jeansnya, semua tetap berada dalam ruang yang sama selama etika berpakaian Islam dijaga. Yang membedakan mereka bukan kain yang melekat di tubuh, tetapi sikap hati dan perilaku yang menyertainya.
Di titik inilah kita melihat keindahan Islam sebagai agama universal: ia tidak berhenti pada simbol luar, melainkan terus mendorong pemeluknya untuk menembus inti. Pakaian hanyalah kulit, sedangkan substansinya ada pada kesadaran manusia menjaga martabat diri di hadapan Tuhan dan sesama.

