“Kiai hijau” menjadi sangat dinanti sosoknya di setiap pesantren. Untuk melahirkan kiai hijau, perlu pelibatan berbagai pihak, seperti Direktorat Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag dan KLHK, serta pembuatan program semacam Pendidikan dan Latihan (Diklat) guna mengubah paradigma lama. Selain itu, bisa juga mewajibkan para kiai melaksanakan studi banding ke pesantren-pesantren yang sudah menjalankan program ekopesantren. Di sana, para kiai bisa berdiskusi dan bertukar pandangan. Tak lupa juga diharuskan membuat rencana tindak lanjut untuk di pesantrennya masing-masing.
Nah, selanjutnya bagi santri, langkah yang perlu dilakukan dalam berkontribusi menjaga lingkungan tidak perlu yang ndakik-ndakik. Santri bisa mengadopsi pendekatan profetik. Nabi selalu mengajarkan dan memberi keteladanan untuk selalu hidup dalam kesederhanaan dan beriringan. Pertama, hemat air. Dengan menghemat air, artinya sedang menjaga cadangan air agar tidak menipis. Banyak orang belum tahu bahwa air yang bisa dikonsumsi ialah air tawar. Sedangkan, jumlah air tawa hanya berada di angka 3%, dan itupun sekitar 2% terkunci dalam es beku di kutub dan pegunungan.

Kedua, program hidup bersih-suci-sehat. Santri dapat menanam sayuran dan tumbuhan di lingkungan pesantren. Di samping menghasilkan penghijauan, dapat dimanfaatkan berbagai kebutuhan. Misalnya sayur buat lauk makan, serta tumbuhan untuk kesehatan; seperti daun jambu menghilangkan diare.
Ketiga, menjaga satwa. Di pesantren biasanya terdapat beberapa satwa. Dengan dibiasakan menjaga satwa, akan terbangun sikap kepedulian yang tinggi terhadap satwa maupun tempat yang menjadi habitatnya, dalam hal ini hutan.
Keempat, penggunaan transportasi. Santri dapat berperan dalam mengurangi polusi udara yang sekarang sudah pekat. Misalnya, bagi yang jarak tempat taklim dekat, lebih memilih jalan kaki atau naik sepeda. Kemudian, bagi yang sekolah formal dan jaraknya agak jauh, menggunakan kendaraan umum atau memanfaatkan kendaraan bersama.
Kelima, pemanfaatan limbah plastik. Di pesantren, apalagi setelah ada acara, biasanya sampah plastik berserakan. Santri dapat mendaur dengan membuat kerajinan tangan, seperti kerajinan bunga, lampu hias, tempat alat tulis, hingga keranjang belanja.
Itulah beberapa langkah kecil yang dapat dilakukan santri. Lantas, apakah berhenti pada titik ini? Tidak. Saya selalu besuara bahwa santri harus visioner-revolusioner. Maksudnya, santri tidak boleh mandek dengan gegap euforia masa lalu. Santri harus proaktif dalam percaturan kompetisi di era modern. Memahami berbagai disiplin ilmu dan mengkajinya secara mendalam. Santri tidak perlu minder karena membawa bekal yang belum tentu dimiliki liyan, yakni adab dan etika. Dengan perpaduan ilmu (modern) dan etika, niscaya santri terbentuk menjadi manusia paripurna (insanul kamil).
Akan sangat berkesan jika ada santri menjadi ilmuwan, dan menerapkan hasil penelitiannya di pesantren. Misalnya, seperti kehadiran robotik yang membantu operasional pesantren, terpasangnya panel surya sebagai pengganti listrik di pesantren, terciptanya energi terbarukan biogas limbah kotoran ternak pengganti gas LPJ, adanya kendaraan listrik, terintegrasinya kecerdasan buatan dalam pesantren, dan terobosan-terobosan lain.
Sebagai penutup, perlu menjadi permenungan bersama bahwa memelihara kelestarian alam bukan saja didorong oleh kesadaran terkait bencana yang mengancam jika alam tidak dirawat, akan tetapi juga sebagai wujud ketaatan seorang hamba yang beriman. Menjadi khalifah bukan pasif, melainkan harus aktif. Ini adalah amanah agung yang harus dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
*Naskah peserta Lomba Karya Tulis Ekologi Kaum Santri dengan judul asli “Santri Meruwat Bumi: Mengurai yang Luput, Merumuskan Langkah Konkret”.
