Yang mengharukan, lanjut Pak Dubes, adalah saat pentasbihan. Ini adalah peristiwa monumental yang bersejarah bagi seorang rohaniawan. Biasanya dalam acara seperti ini orang tua dan keluarga datang mendampingi. Tapi karena jauh, mereka tidak bisa datang. Maka, ketika Pak Dubes hadir dalam upacara sakral yang monumental tersebut, maka dianggap sebagai orang tua yang mewakili keluarga mereka.
Yang menarik, seringkali para rohaniawan yang dikunjungi memberikan oleh-oleh hasil pertanian yang mereka tanam, seperti kentang, buah-buahan, dan sayur. “Mobil saya sering penuh sayuran dan buah-buahan, oleh-oleh dari mereka yang kita kunjungi,” lanjut Pak Dubes. I

Itulah tradisi masyarakat Indonesia yang selalu guyub, rukun, dan tahu berterima kasih. Tetap terbawa meskipun mereka sudah tinggal dan berada di negeri modern.
Pak Dubes juga cerita tentang sejarah berdirinya negara Takhta Suci Vatikan. Menurut cerita Pak Dubes, negara Vatikan dibentuk pada tahun 1929 melalui Traktat Leteran yang ditandatangani oleh Wakil Kepala Pemerintahan Takhta Suci Kardinal Pietro Gaspari dan Perdana Menteri Kerajaan Italia, Benito Mussolini. Nama negera Vatikan adalah Stato Citta del Vaticano.
Dalam traktat tersebut dijelaskan bahwa Negara Kota Vatikan diakui sebagai badan politik yang menjamin keberadaan Takhta Suci sebagai institusi tertinggi dalam Gereja Katolik sedunia dan sebagai negara berdaulat dengan nama pemerintahannya Takhta Suci atau Santa Sede. Negara juga disebut dengan The Holy See dengan Pimimpin/Kepala Negara disebut Paus (The Holy Father).
Sejarah panjang Vatikan berakar pada terbentuknya Negara Kepausan (Stato Pontificio) pada pertengahan abad ke-8. Wilayah Negara Kepuasan meliputi seluruh kota Roma yang terbentang antara pesisir Timur dan Barat Italia. Istana Paus terletak di sebelah Basilika Santo Yohannes Leteran, sehingga sering disebut dengan Istana Leteran. Istana ini digunakan hingga akhir abad ke-19.
Beberapa kali Negara Kepausan terlibat dalam konflik politik dan perang wilayah sehingga mengancam eksistensi negara tersebut. Hal ini terjadi pada saat proses penyatuan kerajaan-kerajaan Italia. Pada tahun 1870 Negara Kepausan berakhir, ketika Garibaldi berhasil merebut Roma dan menyerahkan kekuasaan pada Raja Vittorio Emanuelle II. Sejak saat itu Paus Pius IX meninggalkan Istana Leteran, kemudian pindah dan menetap di Istana Vatikan dengan mengurung diri.
Kisah Pak Dubes tentang sejarah Vatikan makin menarik perhatian kami. Mendengarkan kisah sejarah Vatikan pagi itu seperti menemukan mata air peradaban. Kami menggali dan menampung air jernih yang memancar dari informasi yang disampaikan Pak Dubes. Kami menyimak kisah ini dengan antusias dan mencatatnya dengan serius. Suatu sarapan pagi yang bergizi bagi kami.
Melihat kami serius menyimak, Pak Dubes semakin bersemangat bercerita. Dikisahkan, setahun setelah Paus Pius mengurung diri di Istana Vatikan, tepatnya pada 1871, Raja Vittorio Emanuelle II memberikan jaminan kedudukan Paus untuk menempati Istana Leteran dan Castel Gondolfo. Jaminan ini tertuang dalam undang-undang yang dikeluarkan oleh Raja Vittorio. Namun tindakan unilateral ini ditolak oleh Paus.
Pada tahun 1919 pemerintah Itali kembali mengeluarkan “Law of Guarantte” yang isinya mengakui kedaulatan Paus atas wilayah tertentu dan memberi hak untuk menggunakan beberapa gedung yang ditunjuk sebagai bagian dari wilayahnya. Namun tindakan sepihak dari pemerintah Itali ini juga ditentang oleh Paus yang berkuasa pada saat itu, yaitu Paus Benediktus XV.
