Malam takbiran selalu menjadi malam yang paling ramai di kampung kami. Dari Musolla kecil di ujung jalan, suara takbir bergema menyusuri rumah-rumah. Anak-anak berlarian membawa kembang api kecil, sebagian menyalakan petasan yang suaranya memecah keheningan malam. Aroma ketupat yang direbus di dapur-dapur warga menguar bersama angin yang bertiup pelan.
Namun malam itu terasa berbeda. Di rumah kami, tak ada suara ayah yang biasanya paling keras melantunkan takbir. Tidak ada langkahnya yang mondar-mandir di ruang tamu sambil menyiapkan sajadah untuk salat Id keesokan pagi.

Aku duduk di beranda, memandang langit yang gelap. Lampu-lampu rumah tetangga menyala terang. Dari kejauhan, suara takbir terdengar semakin ramai, tetapi di dalam rumah kami justru terasa sunyi. Ini adalah Lebaran pertama tanpa ayah.
Ayah meninggal empat bulan yang lalu. Penyakit yang datang tiba-tiba membuat semuanya berubah dengan cepat. Rumah yang dulu selalu terasa hidup kini seperti kehilangan napasnya.
Di dapur, ibu masih sibuk menyiapkan makanan untuk esok pagi. Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar pelan. Adikku duduk di lantai ruang tengah, mencoba melipat baju barunya. Segalanya berjalan seperti biasa. Hanya satu hal yang tidak ada.
Ayah…
Dulu, malam takbiran selalu dimulai oleh ayah. Setelah salat Isya, ayah biasanya mematikan televisi dan berkata dengan suara yang ceria, “Ayo, kita takbiran di rumah dulu sebelum ke masjid.” Kami akan duduk bersama di ruang tamu. Ayah memimpin takbir dengan suara yang lantang. Kadang nadanya tidak terlalu merdu, tetapi kami selalu ikut bersuara bersamanya.
Aku sering tertawa ketika ayah lupa lirik takbir yang panjang. Ia akan berhenti sejenak lalu melanjutkan lagi dengan percaya diri, seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah itu, ayah biasanya keluar sebentar untuk melihat suasana kampung. Ia kembali membawa cerita tentang anak-anak yang bermain petasan atau tetangga yang menyiapkan hidangan Lebaran.
Kini semua itu hanya tinggal kenangan.
Malam itu ibu keluar dari dapur sambil membawa piring berisi kue. “Sudah makan?” tanyanya. Aku mengangguk pelan. Ibu duduk di kursi yang biasanya ditempati ayah. Ia terlihat mencoba tersenyum, tetapi matanya tampak lelah. “Kita tetap Lebaran seperti biasa,” katanya pelan.
Aku tahu ibu sedang berusaha tegar. Namun kursi kosong di sebelahnya membuat kalimat itu terasa berat.
Pagi Lebaran biasanya menjadi waktu yang paling ditunggu ayah. Ia selalu bangun paling awal, bahkan sebelum azan Subuh. Setelah salat, ia akan mengetuk pintu kamar kami satu per satu.
“Bangun, nanti telat salat Id.” Suara itu tidak terdengar pagi itu. Aku terbangun karena suara ibu yang berjalan di dapur. Matahari baru saja muncul di balik pepohonan. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya.
Di meja makan, ketupat dan opor ayam sudah tersaji. Ibu menyiapkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Adikku mengenakan baju baru yang masih tampak kebesaran di tubuhnya.
“Mas… nanti kita tetap ke masjid, kan?” tanyanya pelan.
“Tentu,” jawabku.
Kami berjalan menuju masjid bersama warga kampung lainnya. Orang-orang saling menyapa dengan wajah ceria. Anak-anak tertawa sambil memamerkan pakaian baru mereka. Namun di tengah keramaian itu, aku merasa seperti membawa ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Di masjid, biasanya ayah berdiri di sebelahku saat salat Id. Ia sering mengingatkanku untuk merapatkan saf. Hari ini tempat itu kosong. Aku menunduk lebih lama dari biasanya setelah salam terakhir.
Setelah pulang dari masjid, tradisi keluarga kami selalu sama. Kami berkumpul di ruang tamu, lalu saling bersalaman dan meminta maaf. Ayah biasanya duduk di tengah, lalu kami satu per satu mencium tangannya.
“Maafkan ayah kalau ada salah,” katanya setiap tahun.
Pagi itu, kami tetap duduk di ruang tamu. Namun ayah tidak ada di sana. Ibu duduk di kursinya, sementara aku dan adikku berada di depannya. Beberapa detik kami hanya saling menatap tanpa kata.
Akhirnya ibu membuka suara. “Maafkan ibu jika selama ini ada salah.”
Aku meraih tangannya dan mencium punggungnya. Tiba-tiba dadaku terasa sesak. Semua kenangan tentang ayah datang bersamaan tawanya, suaranya, dan cara ia memeluk kami setiap Lebaran. Air mata jatuh tanpa bisa ditahan. Adikku ikut menangis di sampingku. Untuk pertama kalinya sejak ayah pergi, kesedihan yang selama ini kami simpan akhirnya keluar begitu saja.
Ruang tamu itu dipenuhi isak tangis yang pelan. Kursi ayah tetap kosong. Namun bayangannya terasa sangat dekat.
Siang hari, setelah tamu-tamu mulai berdatangan, rumah kami kembali sedikit ramai. Tetangga datang membawa makanan dan cerita. Anak-anak kecil berlari di halaman seperti tahun-tahun sebelumnya. Ibu terlihat lebih tenang. Sesekali ia tersenyum ketika berbicara dengan para tamu.
Sore harinya, aku berjalan ke pemakaman di belakang masjid. Tanah di sana masih tampak lebih merah dibandingkan yang lain.
Aku berdiri di depan makam ayah cukup lama. Angin sore bertiup pelan, membawa suara anak-anak yang masih bermain di kejauhan.
“Ayah,” bisikku pelan.
Aku teringat semua Lebaran yang pernah kami lalui bersama. dari masa kecil hingga beberapa bulan sebelum ayah sakit.
Semua kenangan itu terasa begitu hidup di kepalaku. Aku membaca doa dengan suara pelan. Setelah selesai, aku menatap langit yang mulai berubah jingga. Lebaran tahun ini memang terasa berbeda.
Tidak ada suara ayah yang memanggil dari ruang tamu. Tidak ada tangannya yang menepuk bahuku setelah salat Id. Namun, untuk pertama kalinya aku menyadari sesuatu. Meskipun ayah tidak lagi berada di rumah, kenangan tentangnya tetap tinggal di setiap sudut kehidupan kami. Di meja makan yang ia buat sendiri. Di halaman tempat ia sering duduk sore hari. Dan di hati kami yang selalu mengingatnya.
Aku menghela napas panjang sebelum berjalan pulang. Lebaran tanpa ayah memang terasa sunyi. Tetapi di dalam doa yang kami panjatkan, ayah terasa lebih dekat dari sebelumnya.
Sampang, 2026.
