Pagi Lebaran biasanya menjadi waktu yang paling ditunggu ayah. Ia selalu bangun paling awal, bahkan sebelum azan Subuh. Setelah salat, ia akan mengetuk pintu kamar kami satu per satu.
“Bangun, nanti telat salat Id.” Suara itu tidak terdengar pagi itu. Aku terbangun karena suara ibu yang berjalan di dapur. Matahari baru saja muncul di balik pepohonan. Rumah terasa lebih sepi dari biasanya.

Di meja makan, ketupat dan opor ayam sudah tersaji. Ibu menyiapkannya seperti tahun-tahun sebelumnya. Adikku mengenakan baju baru yang masih tampak kebesaran di tubuhnya.
“Mas… nanti kita tetap ke masjid, kan?” tanyanya pelan.
“Tentu,” jawabku.
Kami berjalan menuju masjid bersama warga kampung lainnya. Orang-orang saling menyapa dengan wajah ceria. Anak-anak tertawa sambil memamerkan pakaian baru mereka. Namun di tengah keramaian itu, aku merasa seperti membawa ruang kosong yang tidak bisa diisi oleh apa pun.
Di masjid, biasanya ayah berdiri di sebelahku saat salat Id. Ia sering mengingatkanku untuk merapatkan saf. Hari ini tempat itu kosong. Aku menunduk lebih lama dari biasanya setelah salam terakhir.
Setelah pulang dari masjid, tradisi keluarga kami selalu sama. Kami berkumpul di ruang tamu, lalu saling bersalaman dan meminta maaf. Ayah biasanya duduk di tengah, lalu kami satu per satu mencium tangannya.
“Maafkan ayah kalau ada salah,” katanya setiap tahun.
Pagi itu, kami tetap duduk di ruang tamu. Namun ayah tidak ada di sana. Ibu duduk di kursinya, sementara aku dan adikku berada di depannya. Beberapa detik kami hanya saling menatap tanpa kata.
Akhirnya ibu membuka suara. “Maafkan ibu jika selama ini ada salah.”
