Lelaki Satu Suro

Udara sore yang hangat menemani sekelompok warga duduk-duduk di pos kamling di mulut gang menuju Desa Kemoceng. Meskipun musim pandemi dan diharuskan di rumah saja, beberapa warga ini membandel dengan alibi menjaga pintu masuk desa. Motif sebenarnya, ya, agar tetap bisa nongkrong dan terhindar omelan istri. Dari kejauhan di barat sana, mereka melihat seorang pria berjalan kaki mendekat. Tidak begitu jelas wajahnya dan hanya membentuk siluet karena dia membelakangi matahari yang hampir rebah.

Warga bersiap-siap bertanya tentang identitas pria itu berikut tujuan dia datang ke desa. Ketika jaraknya tinggal beberapa meter, warga mulai mengenali pria tadi. Ternyata dia bukan hanya sosok yang mereka kenali, tapi bahkan rindui.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

“Yahaaa…! Woi Yaha pulang! Yaha Pulang!” seru Kohar sambil bejoget menirukan gaya monyet ekor panjang yang sering ditanggap warga desa.

Warga lain segera berhambur dan memeluk Yaha tanpa risih maupun khawatir tertular virus. Tak sedikit yang berebut mencium tangannya, sementara Yaha seperti pasrah sembari menebar senyum diperlakukan istimewa demikian. Keriuhan kecil itu mengundang warga lain keluar rumah dan menghambur berebut bersalaman atau mencium tangan Yaha. Bagi orang luar desa yang melihat peristiwa ini pasti akan berpikir bahwa warga Desa Kemoceng berlebihan dan bahkan membahayakan diri dengan merangkul, menjabat tangan, bahkan mencium tangan Yaha yang baru saja datang entah dari mana.

“Bagaimana kabarmu? Kamu tampak sehat. Virus pasti tidak punya nyali mendaki tubuhmu,” tanya Rasikin, salah satu ketua RT Desa Kemoceng, penuh semangat.

“Alhamdulillah saya sehat-sehat saja. Lihat wajah saya, segar sekali, kan?” jawab Yaha sembari tersenyum, membelalakkan mata, dan berkedip-kedip jenaka untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja.

“Saya sudah yakin kamu pasti baik-baik saja. Jangankan virus, kematian saja takut padamu. Kamu masih ingat, kan, waktu gudang padi saya roboh dan kamu malah cekikikan tertimpa pintunya?” kata Ketua RT disambut gelak tawa warga dan anggukan Yaha.

“Sebenarnya, di kota seberapa gawat virus ini?” kali ini Kohar yang bertanya.

“Lumayanlah. Ada ratusan yang mati. Rumah sakit juga penuh oleh pasien yang terserang virus.”

“Jadi virus itu benar-benar ada?”

“Iya memang ada. Tapi tenang saja, virus itu tidak akan sampai ke desa ini. Kita semua pasti aman,” papar Yaha dengan nada bangga disambut tepuk tangan.

***

Inilah kisah Yaha

Pada malam satu Suro Maryam yang hamil sembilan bulan lebih tujuh hari mengalami pecah ketuban. Saat itu, para warga baru saja pulang dari surau selepas shalat isya. Jeritan Maryam memecah kesunyian desa di lereng Gunung Sindoro itu. Beberapa warga lain yang melintas hendak berendam di sungai untuk menyambut malam satu Suro, terhenti langkahnya dan mencari tahu ke rumah Maryam. Mereka berbisik bahwa Desa Kemoceng akan tertimpa sial jika Maryam melahirkan di malam satu Suro. Bulan Suro mereka anggap penuh kesialan, makanya tidak ada orang yang menikah atau menggelar resepsi di bulan ini.

Maryam terbaring pucat di atas dipan kayu di ruang tamu ditemani seorang perempuan sepuh yang biasa membantu proses persalinan. Suami Maryam, Sujak, duduk di kursi rotan tak jauh dari dipan dengan wajah panik dan sesekali menyebut nama Gusti Allah. Lepas tengah malam, seorang bayi laki-laki sehat berbobot tiga kilogram lahir dengan tangisan membahana. Dialah Badbaadiyaha yang kemudian disapa Yaha.

Kecemasan warga tentang kesialan atas kelahiran Yaha masih membayang. Mereka menghitung hari untuk menemukan kesialan demi kesialan. Kadang-kadang, kesialan kecil seperti jari teriris pisau atau telur ayam yang gagal menetas pun dihubungkan dengan kelahiran Yaha. Mudah sekali warga menyandarkan setiap hal buruk kepada Yaha.

Tapi itu tidak lama karena sepekan setelah Yaha lahir, keberuntungan demi keberuntungan justru direngkuh warga desa. Pemilik toko kelontong, Oded, mendapat hadiah mobil dari sebuah bank tempat dia menjadi nasabah selama puluhan tahun. Padahal selama ini dia tak pernah dapat hadiah, payung pun tidak. Juragan cabai, Muslek, mendapat paket umroh dari penyedia layanan telepon selular langganan. Dia sempat mengira ditipu seperti biasanya saat mendapat pesan sebagai pemenang. Tapi tidak untuk kali ini. Dia benar-benar mendapat tiket gratis berikut fasilitas lain ke tanah suci. Ada juga Yu Am memperoleh sertifikat atas tanah yang selama ini menjadi objek sengketa dengan tentara. Bertahun-tahun berjuang, baru tahun ini Yu Am merasa nyaman karena tanah warisan buyutnya, yang dituduh terlibat PKI itu, akhirnya kembali sah menjadi milik keluarga.
Masih banyak warga lain yang kelimpahan keberuntungan serupa. Kalau ditulis satu-satu di sini, bisa jadi cerita panjang, mirip lembaran pengumuman pemenang undian.

Keberuntungan demi keberuntungan yang dirasakan warga itu membalik persepsi mereka terhadap Yaha. Entah siapa yang memulai, tahu-tahu muncul kesimpulan bersama bahwa kelahiran Yaha membawa keberuntungan. Bagi yang belum mendapat keberuntungan, seolah tinggal menunggu giliran. Pelan-pelan warga mengakui Yaha bukan anak biasa.

Mereka memperlakukan Yaha secara istimewa. Yaha tumbuh besar dalam lingkungan penuh pemakluman. Dia menjadi anak emas warga. Ketika Yaha berbuat salah seperti memukul teman sepermainannya atau mengambil mainan anak lain, yang disalahkan anak lain itu. Yaha selalu benar di mata warga meskipun dia salah. Maryam sebenarnya agak risau dengan sikap warga terhadap Yaha, tetapi kalah oleh arus mayoritas. Tatkala Maryam menegur atau menghukum Yaha karena berbuat salah, warga kampung tidak terima.

Tinggalkan Balasan