Seperti malam itu, Yaha menangis setelah dicubit Maryam lantaran Yaha mencekik seekor anak kucing sampai mati. Warga langsung berkerumun di halaman rumah Maryam begitu mendengar tangisan Yaha. Kepala Desa turun tangan untuk menenangkan warga yang gusar mendengar tangisan Yaha.
“Sudah aman. Tidak ada apa-apa. Silakan pulang ke rumah masing-masing,” kata Kepala Desa.

“Tapi mengapa Yaha sampai menangis Pak?” kata seorang warga, “Pasti ada apa-apa.”
“Iya, tadi dia sempat dicubit ibunya karena nakal. Sekarang sudah aman.”
“Tolong bilang ke Maryam, jangan menyakiti Yaha lagi. Yaha bukan hanya milik dia, tapi milik kami juga.”
Rasa memiliki terhadap Yaha itu bersifat bendawi belaka. Mereka tidak ingin segala keberuntungan yang datang seolah tanpa akhir itu musnah gara-gara Yaha disakiti. Warga menjadi over protektif yang berujung pada sikap membiarkan apapun kehendak Yaha. Sebagai anak, tumbuh dalam lingkungan tanpa konsekuensi seperti itu menjadikan Yaha seenaknya sendiri. Makin hari prilakunya makin membuat panas hati Maryam, tetapi warga selalu mendukung Yaha. Pernah suatu kali Yaha sengaja melempar batu kali sebesar genggaman tangan ke atas genting warga. Tiga belas genting pecah dan mengagetkan bayi dalam rumah. Anehnya, pemiliki rumah tidak marah dan malah senang karena menganggap sebentar lagi mendapat keberuntungan. Warga lain apalagi, mereka berebut mengganti genting pecah itu seperti berebut keberuntungan.
Maryam pusing memikirkan perilaku anaknya, terlebih perilaku warga. Dia lalu berkonsultasi dengan karibnya di sekolah dulu yang kini mempunyai pondok pesantren. Namanya KH Sulaiman. Maryam yakin di tangan Sulaiman yang penyabar dan berilmu itu, Yaha akan tumbuh dengan perilaku yang lebih baik. Maka ketika menjelang akil balig, KH Sulaiman membawa Yaha ke pondok pesantrennya setelah bernegoisasi secara alot dengan warga yang menginginkan Yaha tetap di kampung saja.
Tentu tidak mudah mendidik Yaha dari lingkungan tanpa konsekuensi ke pondok pesantren yang penuh aturan dan hukuman. Yaha seperti ikan laut masuk ke sungai. Tidak betah dan selalu berontak. Ketika yang lain sibuk menderas kitab suci, dia berburu cicak dengan ketapel. Berulang kali ketapel dirampas pengasuh, berulang kali Yaha membuat yang baru dengan mematahkan ranting jambu bercabang dan memberinya karet. Kadang dia curi karet celana teman sekamarnya demi ketapel itu.
Selain ketapel, dia keranjingan main sepak bola tanpa tahu waktu. Suatu sore menjelang maghrib tatkala para santri sudah berkumpul di masjid, Yaha masih asyik menggiring bola seorang diri bertelanjang kaki.
“Yaha, kenapa tidak segera ke masjid?” tegur KH Sulaiman. Biasanya, santri yang ditegur langsung bergegas tanpa berpikir panjang. Tapi ini Yaha, beda responsnya.
“Tidak punya sandal Kiai,” jawabnya.
“Memang sandalmu yang kemarin kamu taruh mana?”
“Hilang sebelah Kiai.”
“Cari dong.”
“Sudah, tapi tidak ketemu Kiai.Lagian capek nyarinya.”
“Ya, sudah, ambil sandal di kamar mandi saya dekat dapur.”
“Baik, Kiai,” kata Yaha sembari tersenyum. Hatinya melonjak.
Dia tahu jam-jam segini biasanya putri Kiai, Aisya, ada di kamar mandi bersiap ke masjid. Aisyah yang dua tahun lebih muda daripada Yaha ini menjadi perbincangan santri karena kecantikannya. Benar saja, Yaha mendapati Aisya hendak berwudhu. Aisya kaget ada santri pria di dekat kamar mandi.
“Artagfirullah! Lagi ngapain kamu?” tanya Aisya dengan tatapan jeri.
