Mungkin saja ada seorang ibu yang belum mengenal istilah “gizi”. Tapi percayalah, setiap makanan yang disajikan untuk anak-anaknya berupa paket lengkap: makanan terbaik, disajikan dengan hati, dengan cinta, lengkap dengan jampi-jampi atau doa. Doa terbaik dari seorang ibu untuk buah hatinya. Doa yang paling didengar oleh Tuhan.
Begitulah ikhtiar seorang ibu memberikan asupan terbaik buat anak-anaknya. Bahkan, seorang ibu akan mengomel sepanjang waktu, atau harus bertengkar dengan suami, jika di rumah tak tersedia cukup bahan untuk membuat makanan terbaik bagi anak-anaknya.

Begitu totalitas seorang ibu mendedikasikan seluruh hidupnya untuk anak-anaknya. Bahkan sejak dalam pikiran pun, tak ada seorang ibu yang coba-coba menyajikan makanan beracun kepada anak-anaknya. Hanya orang gila yang punya pikiran seperti itu.
Karena itulah, ketika seorang anak sedang menyantap telur dadar atau nasih goreng atau sayur lodeh masakan ibunya, sesungguhnya yang sedang dikunyah dan ditelan bukan hanya telur dadarnya atau nasi gorengnya atau sayur lodehnya. Sejatinya, sang anak juga sedang mengunyah kasih sayang ibunya. Yang merasuk ke dalam tubuh sang anak juga cinta dan doa-doa sang ibu. Bukan sekadar makanannya.
