Sikap rendah hati Mbah Manan juga tampak ketika ia mengikuti pengajian Ihya Ulumuddin karya Imam al-Ghazali yang diberikan oleh KH Askandar. Padahal, saat itu, selain sebagai santrinya, KH Askandar adalah menantunya. Ketika itu, KH Askandar sudah membangun pondok sendiri, tak jauh dari pondok Mbah Manan. Saban hari, Mbah Manan dengan tekun mengikuti pengajian Ihya Ulumuddin yang diberikan oleh KH Askandar hingga khatam. Bahkan, saat khataman pengajian Ihya Ulumuddin, Mbah Manan menyembelih dua ekor sapi sebagai ungkapan rasa syukur. Begitulah, kiai jaduk ini masih mau ngaji dan berguru kepada santri dan menantunya.
Selain alim, Mbah Manan dikenal sakti. Pada zaman 1965, di Banyuwangi, kaum santri menjadi sasaran keganasan orang-orang PKI. Untuk melindungi keselamatan masyarakat sekitar, Mbah Manan memberikan jimat kepada santri dan masyarakat sekitar berupa kayu rotan. Berbekal kayu rotan inilah masyarakat akhirnya mampu mengalahkan keganasan orang-orang PKI.

Perjalanan Santri Kelana
Untuk sampai di Desa Sumberberas —yang sering disebut Berasan— di Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi, ini Mbah Manan telah melalui perjalanan panjang nan berliku. Mbah Manan lahir di Desa Ngejan, Grompol, Kediri, Jawa Timur pada 1870. Ia adalah putra dari pasangan Kiai Muhammad Ilyas dan Umi Kultsum. Sang ayah berasal dari Banten, sedangkan ibunya memang asli Kediri.
