Keluasan ilmu Mbah Moen tak hanya diajarkan di Pondok Pesantren Al-Anwar Sarang, Rembang yang dipimpinnya, tapi juga diamalkan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Mbah Moen dikenal aktif dan kemudian menjadi tokoh yang disegani di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU). Selain itu, Mbah Moen juga terjun langsung ke dunia politik melalui Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ia pernah menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat pada 1987 dan anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI) pada 1999.
Dalam mengejawantahkan ilmunya, Mbah Moen adalah sosok yang lurus, dan abai terhadap godaan. Mbah Moen pernah digoda dan menolak untuk ikut bergabung dengan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) di zaman Orde Baru. Mbah Moen juga tak pernah tergoda untuk berganti-ganti kendaraan politik di Era Reformasi, di saat partai politik tumbuh menjamur. Bukan karena NU yang paling benar. Bukan karena PPP yang paling benar. Mbah Moen memberi contoh orang harus istiqomah pada pilihannya untuk menebar kebaikan dan kebajikan.

Saat-saat terakhir dalam kehidupannya, ketika bangsa Indonesia didera ketegangan politik dan tarik menarik kelompok kepentingan berbasis ideologi agama, Mbah Moen berdiri tegak lurus untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia mencintai, mengasihi, dan mengayomi seluruh anak bangsa. Kedalaman ilmunya menjadi rujukan, begitu pula sikap politiknya.
Dari sosok Mbah Moen kita tahu, orang-orang yang mencapai maqom Kinasih tak hidup di menara gading. Tak hidup di ruang hampa. Tak mendaku sebagai yang paling alim. Tak mendaku sebagai yang paling benar. Mereka adalah orang-orang yang hidup dan bergumul di tengah kehidupan masyarakat dengan intensitas cinta, kasih sayang, dan pengayoman yang tinggi. Begitulah Tuhan akhirnya melimpahkan cinta, kasih sayang, dan pengayoman tiada tara. Siapa tak cemburu?
