Warisan perjuangan Mbah Nyai Khodijah dalam bidang pendidikan terus berlanjut hingga saat ini. Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif Denanyar yang dirintisnya telah berkembang menjadi lembaga pendidikan yang tetap menjaga tradisi pesantren sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Pondok induk putri, misalnya, saat ini dihuni sekitar 180 santriwati. Selain itu, pendidikan santri putri juga dikembangkan melalui berbagai asrama putri di lingkungan Denanyar yang berada di bawah naungan Yayasan Mamba’ul Ma’arif. Di antaranya, Asrama Nur Khodijah II, Nur Khodijah III, Ar-Risalah Putri, Sunan Ampel Putri, Sunan Bonang Putri, Iskandariyah Putri, Al-Bisri Putri, Al-Hikam Putri, An-Najah Putri, Nur Khodijah III Tahsin Tahfidz, dan Az-Ziyadah Putri. Dengan keberadaan asrama-asrama tersebut, jumlah santri putri secara keseluruhan mencapai sekitar 1.040 orang.

Dalam perkembangannya, Pondok Pesantren Putri Mamba’ul Ma’arif tidak hanya mempertahankan kajian kitab kuning sebagai ciri khas pendidikan pesantren salaf, tetapi juga mengintegrasikan pendidikan formal yang berwawasan global. Berbagai program takhassus diselenggarakan untuk mengembangkan potensi santriwati sesuai minat dan bakatnya, seperti pendalaman Kutubut Turats (kitab kuning), Tahfidzul Qur’an, serta penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Kehadiran program-program tersebut menunjukkan bahwa semangat pendidikan yang diwariskan Mbah Nyai Khodijah terus berkembang, melahirkan generasi muslimah yang tidak hanya kuat dalam ilmu agama, tetapi juga siap menghadapi tantangan zaman.
Referensi
Hamidah, Ani Mar’atul, dan Atik Masfiah. 2023. “Kontribusi Nyai Nur Khodijah: Telaah Historis Perintis Feminisme Pesantren.” At-Tahdzib: Jurnal Studi Islam dan Mu’amalah, Vol. 11, No. 2, September 2023.
