Kesimpulannya adalah, pertama, inilah yang saya katakan sinau (belajar) konsistensi sikap dari Gus Dur. Ketika masih di luar kekuasaan, ia terus membentuk, memperjuangkan, dan merawat idealismenya —terutama tentang demokrasi— dan ketika berada di dalam kekuasan, Gus Dur memperjuangkan idealismenya agar dapat terwujud. Contoh real konsistensi Gus Dur memajukan demokrasi Indonesia dan keluar dari rezim Orde Baru seperti meletakkan dasar bagi dwi fungsi ABRI, pengakuan atas hak-hak Tionghoa Indonesia, warga Papua, Kristen, dan minoritas sebagai sesama warga negara Indonesia, melindungi kebebasan pers, meningkatkan harapan akan demokrasi dan menghancurkan kultus presiden super kuat (strong-man presidency).
Kedua, setelah 18 tahun Gus Dur dilengserkan dengan cara seolah-olah konstitusional, aktor dan konfigurasi politik Indonesia hari ini masih sama. Ini membuktikan betapa kuatnya kekuatan oligarki Orde Baru mencengkeram. Gus Dur membuktikan bahwa politik tanpa kompromi dengan niat yang tulus membersihkan virus oligarki Orde Baru sebenarnya sangat bisa dilakukan. Gus Dur konsisten ingin membuat sejarah dan peradaban bahwa politik tanpa transaksi dapat dilakukan. Prasyaratnya adalah kemauan, kesiapan, dan keberanian.

Oleh karena itu, usaha dari kang Virdhi ini sangat luar biasa dan perlu apresiasi lebih dari kaum nahdhiyin serta teman-teman santri sebagai generasi penerus bangsa dan perjuangan KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Saya sebagai santri yang merupakan bagian yang wajib sami’na wa atho’na pada kiai sangat merekomendasi dan menganjurkan generasi muda NU untuk memiliki dan membaca buku ini, untuk lebih mengetahui manaqib pelengseran Gus Dur, gaya kepemimpin, serta konsistensi sikap beliau dalam memimpin.
Wallahu a’lam bi asshowab.
