DI PUNCAK GUNUNG MURIA
Zikirku hanya seperti angin lalu
Yang terdengar merdu justru lagumu
Membelai lembut hatiku
Yang membatu

Mungkin tembang sinom
Mungkin tembang kinanthi
Sebab baru ini malam
Aku mendengarmu bersenandung
Di pucuk gunung
Seperti kidung di ruang suwung
Entah senandung rinduku padamu
Entah senandung rinduku pada diriku
Yang dulu
Padahal sudah berabad-abad
Lagu-lagumu menuruni kaki gunung
Menyusuri lembah-lembah
Membawa pesan rindu
Dari sang maha perindu
Berlaksa pendar cahaya di bawah sana
Dalam kemalaman kota
Menjadi saksi bisu
Semakin zikirku menggebu
Semakin aku lebur luruh dalam lagumu
Bernyanyilah hatiku
Bersenandunglah jiwaku
Sang maha perindu
Menunggu
Gunung Muria, 2026.
SEPASANG BULAN DI KADILANGU
Bulan merah
Menginding
Di balik awan
Langit Kadilangu
Aku menapak jejak
Yang menggaris Demak
Bulan perlahan
Menyibak awan
Turun ke bumi
Seperti mimpi
Dalam suluk
Aku bernyanyi
Dalam linglung
Aku semedi
Sepasang bulan
Menatapku
Dari atas pusaramu
Engkaukah itu?
Kadilangu, 2026.
MENARA CINTA
Anakku…
Jika kau menginginkan
Pusaka sakti para wali
Datanglah ke menara ini
Mungkin kau tak bisa
Membedakan
Mana menara
Mana candi
Tapi ketahuilah, Anakku
Menara ini
Atau candi ini
Dibangun bukan dengan batu bata
Tapi seluruh pusaka para wali
Mungkin kelak
Kau sebut menara cinta
Sebab, pusaka sejati
Para wali
Adalah mencintai sesama
Menara Kudus, 2026.
