Jilid 3 merupakan jilid terpanjang dan lebih sulit dari dua jilid sebelum dan setelahnya. Jilid 3 dimulai dengan Rumus A3 yang merupakan rumus susunan yang terjadi pada isim (jumlah ismiyyah) yang memuat mubtada’, khabar, dan ‘amil nawasihk-nya (Beberapa hal yang merusak hubungan mubtada’ dan khabar) seperti inna wa akhwatuha, kana wa akhwatuha, dan la li nafyi al-jinsi.
Setelah itu, dilanjutkan dengan kaidah-kaidah isim ghairu munsharrif berikut alasan atau illat-nya yang berjumlah 12, macam-macam isim musytaq, dan diakhiri dengan tawabi’ (kata yang mengikuti irob kata sebelumnya) yang beranggotakan naat, taukid, athof, dan badal.

Jilid 3 memiliki pembahasan yang lumayan kompleks dan tergolong sulit. Selain itu, jilid 3 juga merupakan pembahasan terakhir dari kalimat isim dan rumus kategori A.
Jilid 4 dan 5 merupakan dua jilid yang sama-sama menjelaskan kalimat fi’il dan seluruh macamnya, dimulai dengan fi’il madhi dan hukum yang meliputinya, seperti dhomir rafa’ mutaharrik, wawu jamak, dhomir muannats.
Pembahasan fi’il tentu tidak akan bisa dipisahkan dengan pembahasan fa’il dan maf’ul (dalam Qoidati diistilahkan sebagai “pelengkap”) yang meliputi maf’ul bih, maf’ul mutlaq, maf’ul liajlih, hal,tamyiz.
