Tiongkok juga sangat serius membangun budaya belajar berbasis logika dan sains. Matematika, sains, coding, hingga teknologi digital menjadi fokus utama kurikulum. Anak-anak didorong mengikuti kompetisi akademik untuk menumbuhkan daya saing sejak dini. Pemanfaatan teknologi juga digalakkan melalui platform daring seperti Xuexi.cn, yang sempat menjadi andalan selama pandemi COVID-19.
Tak berhenti di situ, Tiongkok terus membuka diri terhadap praktik pendidikan global. Mereka mengadopsi pendekatan dari negara maju seperti Amerika Serikat, Finlandia, Jepang, dan Korea Selatan. Guru dan siswa dikirim belajar ke luar negeri untuk memperkuat kerja sama riset dan pendidikan.

Dari situ, terlihat Tiongkok menunjukkan bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya bergantung pada besarnya dana, tetapi juga pada strategi yang tepat. Sementara, Indonesia yang telah mengalokasikan sekitar 20% dari APBN untuk sektor pendidikan, kenyataannya di lapangan belum mencerminkan hasil yang diharapkan. Anggaran besar belum cukup untuk mengatasi persoalan mendasar dalam sistem pendidikan. Karena itu, pemerintah perlu mengambil langkah-langkah jelass dan tegas agar pendidikan benar-benar menjadi prioritas nasional.
Salah satu langkah awal yang bisa diambil adalah menegaskan kembali pentingnya pendidikan wajib minimal 12 tahun. Upaya ini harus disertai dengan penyediaan fasilitas pendukung, baik untuk guru maupun siswa. Untuk para guru, pemerintah perlu menyediakan transportasi dan perumahan, khususnya bagi mereka yang bertugas di daerah terpencil. Sementara itu, bagi siswa, penting untuk menjamin akses mereka ke sekolah, perlengkapan belajar yang memadai, serta ruang kelas untuk mencipatakan lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
Rekrutmen dan pelatihan guru seharusnya dilakukan secara ketat dan merata, agar setiap tenaga pendidik memiliki kompetensi yang memadai dan mampu menjamin pendidikan yang inklusif serta berkualitas. Sayangnya, masih ada anggapan di masyarakat bahwa profesi guru mendapat penghargaan paling rendah dibandingkan profesi lain. Tak heran, menjadi guru kerap dipilih sebagai jalan terakhir bagi para sarjana yang tidak berhasil meraih cita-cita utamanya.

Dan serius dalam menangani korupsi yang merugikan negara.