Biasanya, iklan-iklan di TV penuh dengan sajian-sajian khas berbuka, mulai dari sirup-sirup berwarna merah-kuning-hijau, yang dituang ke gelas berisi kubus kubus es. Berbagai merk mi instan yang menyarankan menyetok produk mereka untuk sahur. Pokoknya, semua produk akan fokus pada dua momen: berbuka dan sahur.Tapi hari ini, yang lebih banyak muncul di televisi, ya itu.
Biasanya harga-harga pada naik. Harga sembako, daging, telur, bumbu dapur, semuanya merangkak naik. Kalau dalam tradisi Jawa ada acara punggahan, yang artinya menaiki puncak kemuliaan karena akan memasuki bulan mulia Ramadhan, harga-harga juga ikut-ikutan naik ke puncaknya masing-masing. Tapi hari ini, saat semua aktivitas dibatasi, pedagang-pedagang jadi bingung: siapa yang mau membeli, maka kemudian harga pun anjlok. Dan pasar tetap saja sepi.

Biasanya, masjid, langgar, dan mushola mulai dibersihkan, karpet-karpet besarnya dicuci dan dijemur, volume speaker dikencangkan, temboknya dicat ulang, pintu-pintunya dibuka lebar-lebar, seolah untuk menyambut kedatangan Ramadhan, ya memang.
