Demikian pula dalam sajak-sajak yang ditulis di luar negeri, seperti “Suatu Malam di Honolulu” atau “Burung-burung Telaga Cayuga”. Tema keterasingan dan kerinduan pada tanah air bukanlah sebuah postur nasionalistis, melainkan sebuah realitas eksistensial yang menyakitkan sekaligus mencerahkan. Totalitas inilah yang memberi bobot pada puisinya; ia tidak mengawang-awang, melainkan berpijak kuat pada tanah pengalaman manusia seutuhnya.
Dari totalitas pengalaman tersebut, lahirlah sebuah estetika yang khas dalam semesta puitik Pabottingi: estetika kerinduan (longing) dan kegalauan intelektual. Kerinduan ini berlapis-lapis. Ada kerinduan pada lanskap masa kecil yang primordial, pada kepolosan yang hilang, seperti yang tergambar dalam novel semi-autobiografi nya, Burung-Burung Cakrawala. Namun, ada pula kerinduan yang lebih besar dan bersifat politis: kerinduan pada sebuah Indonesia yang ideal, yang egaliter dan berkeadilan, sebuah cita-cita yang terus-menerus dikhianati oleh realitas kekuasaan.

Kerinduan ini seringkali menjelma menjadi nada melankolis dan kontemplatif. Puisinya bukanlah puisi pamflet yang berteriak-teriak di jalanan. Sebaliknya, ia adalah ruang perenungan yang sunyi.
Kegalauan seorang intelektual yang melihat jurang antara idealisme dan praktik politik termanifestasi bukan dalam amarah yang meledak-ledak, melainkan dalam citraan yang subtil dan reflektif. Judul kumpulan puisinya, Dalam Rimba Bayang-Bayang, secara metaforis menggambarkan estetika ini: sebuah dunia yang tidak hitam-putih, penuh ambiguitas, di mana sang penyair berjalan dalam perenungan yang tak kunjung usai. Estetikanya adalah estetika pertanyaan, bukan jawaban; sebuah pencarian makna yang terus-menerus di tengah kebisingan politik.
Untuk menyampaikan totalitas pengalaman dan estetika kerinduannya, Mochtar Pabottingi memilih jalan kejernihan bahasa. Ia bukanlah penyair yang gemar bermain akrobat kata atau membangun metafora yang rumit dan gelap. Diksi dalam puisi-puisinya cenderung lugas, jernih, dan mudah diakses. Namun, kesederhanaan ini menipu, karena di baliknya tersimpan kedalaman makna yang lahir dari pengamatan yang presisi dan perasaan yang telah lama diendapkan.
Kekuatan puitisnya terletak pada kemampuannya membangun citraan (imagery) yang kuat dan membekas. “Panah-panah air yang menari” dalam sajak hujan, atau “kereta api terakhir” yang bergerak “ke dunia yang lain” adalah contoh citraan yang lahir dari observasi konkret, namun mampu membangkitkan resonansi makna yang luas tentang transisi, perpisahan, dan waktu.
Bahasanya adalah bahasa yang jujur, yang tidak berusaha menyembunyikan apa pun di balik selubung kata-kata indah. Ia seolah percaya bahwa kebenaran puitis dapat ditemukan dalam pengungkapan yang paling bening. Gaya bahasanya yang “lembut tapi berapi-api” di dalam puisinya seperti menemukan wujudnya yang paling murni: kelembutan dalam pilihan kata, namun berapi-api dalam kejujuran emosi yang disampaikannya.

Wowww,,, catatan yang indah…