Refleksi Identitas Puitis Mochtar Pabottingi*

Pada akhirnya, nilai sastrawi (literariness) dalam puisi Mochtar Pabottingi berfungsi sebagai sebuah ruang bagi kejujuran eksistensial. Jika dalam esai dan analisis politik ia dituntut untuk membangun argumen yang logis dan koheren, maka dalam puisi ia bebas untuk menjadi rapuh, ragu, dan bahkan terfragmentasi. Puisi memberinya izin untuk mengakui keterbatasan diri di hadapan misteri kehidupan dan sejarah.

Mari kita simak pengakuan eksistensial dalam salah satu fragmen puisinya:

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Aku adalah serpih kapas 
Kelopak randu 
Yang melambung di angin lintas 
Secercah demi secercah serat-serat tubuhku 

Di sini, “aku” lirik bukanlah sosok intelektual publik yang kokoh dengan pendirian yang teguh. Ia adalah “serpih,” “secercah,” entitas yang ringan, terdispresi, dan pasrah pada “angin lintas.” Inilah puncak kejujuran seorang sastrawan: pengakuan atas kefanaan dan ketidakberdayaan manusia. Ruang sastra menjadi tempat di mana ia bisa menanggalkan semua jubahnya baik itu peneliti, pengamat, kritikus, dan berbicara dari sanubarinya yang paling dalam. Nilai sastrawi karyanya tidak terletak pada kemegahan bentuk, melainkan pada keberaniannya untuk menjadi manusia seutuhnya.

Melihat Mochtar Pabottingi dari sudut pandang kesusastraannya bukanlah sekadar memilih satu dari dua identitas yang ia miliki. Ini adalah upaya untuk menemukan esensi, pusat dari mana seluruh pemikiran dan sikap hidupnya bersemi. Kepenyairan bukanlah aktivitas sampingan, melainkan cara ia memandang dan merasakan dunia. Dari totalitas pengalaman konkret yang ia tuangkan dalam puisi, lahir kepekaan pada ketidakadilan. Dari estetika kerinduan akan Indonesia yang ideal, lahir kritik-kritik politiknya yang tajam. Dari kejernihan bahasanya, lahir integritas intelektualnya. Dan dari ruang kejujuran sastrawi, lahir komitmen moralnya yang tak pernah goyah.

Mochtar Pabottingi adalah seorang penyair, dan karena itulah ia bisa menjadi seorang pemikir kebangsaan yang kita kenal. Puisinya adalah refleksi yang paling jujur, sebuah warisan yang akan terus beresonansi jauh melampaui hiruk pikuk analisis politik sesaat.

*Esai yang disimak pada Semaan Pusi edisi 98 di Al-Zastrouw Library, Kamis, 11 Oktober 2025.

One Reply to “Refleksi Identitas Puitis Mochtar Pabottingi*”

Tinggalkan Balasan