***
Pagi itu, Romlah kedatangan tamu. Tamu yang tak pernah disangka. Tamu yang merupakan tetangga dekat tapi baru kali ini datang berkunjung ke rumah Romlah. Sederet tanya menyesaki benak Romlah saat membuka pintu dan membalas salam pria muda yang selama ini menjadi imam masjid, meneruskan perjuangan Kiai Idris, ayahnya yang telah meninggal dunia setahun lalu.

“Silakan masuk, Mas Kiai,” agak gugup Romlah menyilakan Abas, putra bungsu Kiai Idris yang selama ini biasa dipanggil Mas Kiai oleh para tetangganya. Mengingat usianya yang masih muda, maka para tetangga berinisiatif memanggil “Mas Kiai” ketimbang “Pak Kiai”.
Abas tersenyum sekilas lalu masuk dan duduk di salah satu kursi kayu di ruang tamu rumah Romlah yang sederhana. Tanpa banyak basa-basi, Abas langsung mengutarakan maksud kedatangannya. Rupanya ia tertarik ingin membeli rumah dan tanah pekarangan yang tak begitu luas milik Romlah. Mulanya Romlah merasa bungah karena akhirnya ada yang sudi membeli rumahnya. Namun Romlah dicekam bimbang ketika Abas memberikan penawaran yang tak masuk akal. Rumah dan tanahnya yang tak begitu luas itu ditawar dengan harga murah. Di bawah harga pasaran pada umumnya.
“Sekalian diniatkan untuk beramal, Bu Romlah, insyaallah pahalanya sangat besar, karena tanah ini nantinya akan digunakan untuk perluasan pembangunan masjid,” terang Abas sambil tersenyum. Romlah sama sekali tak tahu bila jauh-jauh hari sebelum ia berniat menjual rumahnya, diam-diam Abas telah berencana ingin membeli rumah dan tanah pekarangannya untuk digunakan sebagai perluasan pembangunan masjid.
Akhirnya Romlah merasa tak punya pilihan lain selain mengiyakan penawaran kiai muda yang pernah menimba ilmu selama bertahun-tahun di salah satu pesantren di daerah Jawa Timur. Karena yang dipikirkan Romlah selanjutnya ialah bagaimana ia bisa secepatnya angkat kaki dari rumahnya sendiri, rumah yang telah menyimpan beribu kenangan bersama suami, anak, dan almarhum orangtuanya.
***
Lega. Itulah yang dirasa Romlah setelah menjual rumahnya. Meski dengan harga murah. Tapi tak mengapa daripada batinnya tersiksa. Kini ia mendiami sebuah rumah kontrakan di kampung sebelah. Sebenarnya bukan rumah yang sengaja dibuat kontrakan. Rumah tak begitu besar tapi lumayan bagus yang ditinggali Romlah saat ini merupakan rumah kosong karena pemiliknya sedang bekerja di luar negeri. Rumah tersebut dititipkan pada saudaranya yang rumahnya bersisian dengan rumah kosong tersebut.
Romlah merasa senang dan bersyukur karena ia hanya diminta membayar uang kontrakan seikhlasnya. Ia juga merasa senang karena tak lagi merasa terganggu dengan bising pengeras suara yang berasal dari masjid yang dulu bersisian dengan rumahnya. Ya, itulah yang menjadi alasan Romlah ingin menjual rumahnya.
Sudah setahun terakhir ini ia merasa sangat terganggu dengan aktivitas keagamaan yang secara rutin diadakan oleh Abas. Ia terganggu karena aktivitas tersebut menggunakan pengeras suara yang cukup keras dan memekakkan telinga. Romlah merasa sangat yakin tak hanya dirinya saja yang merasa terganggu, tapi juga sebagian tetangga yang rumahnya berdekatan dengan masjid. Romlah kerap tak bisa tidur karena aktivitas keagamaan itu digelar hingga larut malam.
Padahal dulu, sebelum Kiai Idris tutup usia, ketika Abas masih menimba ilmu di pesantren, Romlah sangat rajin menyambangi masjid, mengikuti salat berjamaah, dan juga beragam aktivitas keagamaan seperti tadarus dan pengajian yang rutin diadakan tiap malam bakda salat Isya. Romlah sangat menghormati Kiai Idris karena pembawaannya yang ramah dan bijaksana. Kiai Idris juga tak pernah menggunakan pengeras suara ketika melakukan aktivitas keagamaan. Ia menggunakan pengeras suara hanya untuk azan salat lima waktu saja.
“Ah, mengapa aku tiba-tiba merindukan salat berjamaah dan mengaji bersama Kiai Idris, ya?” Romlah bergumam dalam hati.
Puring Kebumen, 25 Juni 2021.
