Gus Sholah, sapaan akrabnya, mengatakan bahwa agar ruang publik tidak dikuasai oleh kaum radikal, maka para kiai dan nyai perlu menguasai ruang dakwah untuk publik melalui dunia digital. “Ruang-ruang dakwah seperti itu menurut saya harus banyak diinisiasi. Sebab, radikalisme sudah banyak masuk, salah satunya melalui perguruan tinggi yang ada di Indonesia,” terangnya.
Ia menambahkan, isu radikalisme harus diatasi. Satu hal yang dapat mengatasi radikalisme adalah dakwah damai melalui dunia digital. “Seperti yang dilakukan Ning Ienas Tsuroiya dan Gus Ulil, juga Gus Baha,” tuturnya.

Menurut dia, masih banyak kiai dan nyai yang tawadhu’ dan malu untuk menyiarkan langsung pengajian yang ada di pesantrennya. Selain itu, juga muncul ketakutan seperti tidak adanya pengikut atau penyimak pengajian melalui medsos. “Jika hanya karena khawatir tidak ada yang mengikuti pengajian kita, saya kira tidak masalah. Terpenting, pengajiannya dilaksanakan dengan istiqamah,” tandas Gus Sholah.
Senada dengan hal tersebut, Pengasuh Pesantren Al-Lubab Jepara, Nyai Azzah Nor Laila mengungkapkan pentingnya dakwah literasi digital di era sekarang. Menurut dia, kesadaran berdakwah dengan medsos masih terhalang budaya lama. Dakwah di medsos terkadang memunculkan ketakutan bahwa sepertinya belum pantas. Selain itu, juga muncul kekhawatiran dianggap riya.
