suasana santri sedang berdoa di samping makam Gus Dur

Santri Tebuireng Ziarah ke Makam Masyayikh

Jumat (10/4/2026) pagi, santri putri Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur ziarah ke makam masyayikh. Ini merupakan ziarah pertama setelah santri menjalani masa libur Ramadan dan Idulfitri.

Di Pesantren Tebuireng, ziarah ke makam masyayikh merupakan kegiatan yang dilaksanakan sekali dalam sebulan pada pekan pertama. Jumat ini merupakan pekan pertama para santri memulai aktivitas belajar setelah liburan panjang.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagaimana biasanya, setelah melaksanakan salat subuh berjamaah, para santri melanjutkan kegiatan dengan ziarah ke pasarean Masyayikh Pesantren Tebuireng yang lokasinya tidak jauh dari area pondok.

Pasarean Masyayikh Pesantren Tebuireng yang umumnya dibuka untuk umum ini sangat familiar sebagai wisata religi makam Gus Dur. Pasarean ini buka setiap hari pada sesi pagi jam 08.00-15.00 sementara sesi malam buka jam 20.00-02.00.

Meski demikian, pondok-pondok sekitar Pesantren Tebuireng seperti Madrasatul Qur’an (MQ), Pondok Putri Tebuireng, ataupun Pondok Sains Tebuireng yang memiliki kegiatan rutin ziarah di pagi hari bisa melakukan konfirmasi kepada penjaga makam.

Kegiatan ziarah ini menjadi momen berharga bagi para santri untuk mengenal para masyayikh terdahulu, sekaligus mengenang jasa-jasa mereka yang manfaatnya tidak hanya dirasakan di lingkungan pesantren, tetapi juga oleh masyarakat luas hingga tingkat nasional. Di antaranya seperti Hadratussyaikh M. Hasyim Asy’ari, KH Wahid Hasyim, KH Jusuf Hasyim, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH Abdul Wahid, dan para ulama lainnya.

Hadratussyaikh sebagai pendiri Pesantren Tebuireng tidak hanya berperan dalam membangun tradisi keilmuan pesantren, tetapi juga sebagai pendiri jamiyah Nahdlatul Ulama (NU) yang menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di Indonesia. Dalam perjuangan kemerdekaan RI, KH Hasyim Asy’ari juga memiliki peran penting dengan tercetusnya fatwa Resolusi Jihad yang membakar semangat perlawanan santri dan masyarakat terhadap penjajah.

Sementara itu, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) tidak hanya dikenal sebagai ulama, tetapi juga seorang pemikir, budayawan, dan tokoh pluralisme yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Selain pernah menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia, Gus Dur juga berperan besar dalam memperjuangkan demokrasi, kebebasan beragama, serta hak-hak kelompok minoritas.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan