Pemilihan format “tumpengan” dalam kegiatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan penanda kultural yang berakar kuat dalam tradisi santri dan kebudayaan Nusantara. Tumpeng merepresentasikan doa, rasa syukur, serta harapan atas keberlanjutan ikhtiar kolektif. Dalam kosmologi Jawa dan tradisi pesantren, tumpeng juga menjadi simbol hubungan vertikal manusia dengan Tuhan sekaligus relasi horizontal antarsesama—nilai-nilai yang sejalan dengan semangat literasi, kebersamaan, dan keberpihakan sosial yang selama ini dirawat komunitas duniasantri.
Makna simbolik tersebut semakin menemukan relevansinya ketika acara ini digelar dalam momentum tahun ketujuh dan pada tanggal dua puluh tujuh. Angka tujuh memiliki kedudukan penting dalam tradisi keislaman dan Nusantara: tujuh lapis langit, tujuh putaran tawaf, hingga pitulungan (pertolongan). Tahun ketujuh dipahami sebagai fase kematangan spiritual dan sosial, penanda saat yang tepat untuk melakukan refleksi dan pembaruan. Sementara, angka dua puluh tujuh, yang merujuk pada tanggal pelaksanaan acara, kerap diasosiasikan dalam tradisi santri sebagai ruang pencarian makna dan laku perenungan—sebuah simbol ikhtiar menuju pencerahan dan tanggung jawab kebudayaan.

Diskusi buku menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain Prof. Dr. Ahmad Zainul Hamdi, M.Ag., Prof. Dr. Rumadi Ahmad, M.A., Dr. Ngatawi Al-Zastrow, dan Dr. Neng Dara Affiah. Sementara itu, sesi Orasi Santri akan disampaikan oleh sastrawan yang juga seorang santri, Jamal D. Rahman, yang menekankan posisi santri sebagai subjek kebudayaan dan penggerak etika sosial.
