TAKBIR DI ATAS LUKA

MAAF DAN HARAP DALAM GEMA TAKBIR

Baju baru dan rapi membalut tubuh yang tak luput dari dosa.
Takbir bergema, menggetarkan jiwa di seluruh penjuru dunia.
Para insan melangkah dengan pasti, menyusuri jejak yang penuh harapan ini.
Mentari pagi tersenyum begitu hangat, menyambut hari yang kembali fitrah lagi.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Kepada Sang Penakluk semesta, aku bersimpuh dan berkata;
“maaf…”

Dan lewat semilir angin yang mengalun lembut, kutitipkan sebuah doa; semoga

 

JEJAK DOSA DAN CAHAYA

Di bawah naungan rumah-Mu,
kitab-kitab suci berbaris dalam hening.

Lantunan syair Ilahi berkumandang,

mengalir dari pengeras musala,

lalu menyusup bersama angin melalui ventilasi

Aku terdiam dalam tafakur,
mendengar firman-Mu yang perlahan menyapa jiwa,
membersihkan debu-debu dosa yang lama melekat di dada.

Betapa sering aku menjauh,
lalai dari panggilan-Mu yang tak pernah henti itu.
Di bulan penuh rahmat ini,
Engkau kembali mengetuk pintu hatiku.

Ampuni aku, ya Tuhan.
Ajari aku untuk lebih dekat kepada-Mu,
untuk lebih sering menyebut nama-Mu.
Dalam doa di setiap sujud yang semoga khusyuk.

TAKBIR DI ATAS LUKA

Seorang anak kecil memilih diam selamanya
hanya karena tak mampu membeli alat tulis.

Hutan-hutan ditelanjangi tanpa rasa malu,
tanah petani dirampas atas nama pembangunan.

Ribuan mahasiswa diseret, dibungkam,
suara-suara kritis dilipat, dibungkam dalam ketakutan.

Pejuang keadilan disiram luka,
sementara kebenaran dipaksa untuk menghilang.

Lalu, di mana kata maaf?
Adakah terselip di bibir para pembantu itu?
Atau kalian telah lupa, siapa sebenarnya majikannya.

Hari raya pun tiba,
dengan pakaian terbaik dan senyum penuh percaya diri,
kalian mengucap “minal aidzin wal faidzin”

Aku bertanya
Maaf?
Untuk siapa?
Untuk dosa yang mana?

Bukankah pembantu rakyat sudah buta dan tuli secara hati nurani?
Kalian lebih takut kehilangan jabatan
daripada kehilangan hakiki.

Kalian bicara tentang kemajuan, pembangunan, dan kemerdekaan.
Tapi, apa arti semua itu?
jika tangan yang menengadah adalah tangan yang sama,
yang merampas, membungkam, bahkan juga melukai.
Luka itu kalian tinggalkan di pundak kami, menganga tak tersembuhkan.
dan terus berdenyut dalam gema takbir yang seharusnya suci

Sumber ilustrasi: pxfuel.

Tinggalkan Balasan