Takjil Ibu

Aku duduk di depan jendela kaca. Sebuah buku terbuka yang terabaikan. Perhatianku teralih melihat pemandangan kota yang dipenuhi orang-orang bepergian. Ramadan tersisa satu hari, tapi aku tak pulang.

Tahun ini adalah tahun kedua setelah ibu tiada. Tahun kedua aku menyendiri di kota ini bagai orang tak memiliki keluarga. Bapak telah menikah lagi dengan seorang wanita yang memiliki dua anak yang usianya lebih tua dariku.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Pada awalnya terasa manis memiliki keluarga baru. Aku berpikir, ini adalah awal baik untuk membentuk keluarga utuh. Tapi harapan itu runtuh bersama dengan sikap ibu tiri yang mulai berubah di bulan ke lima. Makin lama, aku diperlakukan makin buruk, baik oleh ibu tiri maupun kedua anaknya. Demi membebaskan diri dari sakit mental, aku pergi ke kota kecil tapi ramai.

Ayah sesekali datang, tapi hanya sebentar. Sejak kecil, ia jarang di rumah; ibu menahan diri, sepertinya ayah tak mencintai ibu.

Dulu aku sering mendengar cerita miring tentang ayah yang tak mencintai Ilibu, dan itu sepertinya benar. Pernikahan mereka sebatas status. Aku sering dititipkan ke rumah nenek, sedangkan ibu bekerja. Ayah jarang pulang, nafkahnya juga tak mencukupi kebutuhan keluarga. Rasa tidak cintanya seperti sampai padaku, mereka menikah memang dijodohkan, tapi kenapa aku menanggung segalanya.

***

Hari ini adalah hari pertama puasa. Aku disibukkan dengan pekerjaan. Kesibukan membuatku tenggelam jauh, hingga panggilan dari ayah terabaikan.

Suatu petang di ramadan kedua, aku terkejut saat lokasi tempat makan sudah penuh. Sekelompok keluarga datang tanpa memberitahu terlebih untuk memesan tempat. Aku mendekat, dan mengenali mereka; mereka adalah keluarga yang tak ingin aku anggap keluarga. Tanpa basa-basi, ayah, ibu tiri, dan dua anak perempuannya duduk canggung. Aku juga terasa bingung.

“Maaf, tempat ini sudah dipesan,” ujarku kikuk.

“Sepertinya kita harus cari tempat lain,” balas istri ayah, sambil hendak beranjak

“Apa tidak ada tempat yang bisa kami gunakan? Kami keluargamu, Mona,” kata ayah seperti memohon.

“Seharusnya Ayah pesan dahulu, di sini biasanya pakai reservasi, terutama di bulan Ramadan,” balasku hati-hati.

“Tidak apa-apa, ayo kita pergi ke tempat lain,” ujar wanita itu mendesak ayah. Kedua saudara tiri hanya saling pandang, lalu beranjak pergi tanpa berbicara. Ayah tampak kecewa. Saat hendak pergi, langkah mereka terhenti oleh panggilan dari Mbak Dila, pemilik restoran tempatku bekerja.

“Mari berbuka bersama di ruang khusus,” Mbak Dila memberi tawaran.

Aku hendak mencegah, tapi Mbak Dila bersikukuh. Ayah menerima tawaran dengan canggung. Aku pun dipaksa Mbak Dila untuk ikut.

“Aku ingin berbuka di tempat biasa,” ujarku menuju dapur, tempat para staf berkumpul.

“Hanya untuk hari ini, momen Ramadan, tahan amarah, tolong runtuhkan egomu untuk hari ini. Ayahmu tadi menghubungiku, katanya jika tak begitu, ia tak bisa bicara denganmu. Lakukan demi ayahmu, itu saja, kesampingkan hal lain,” Mbak Dila membujuk.

Aku diam beberapa saat. Mbak Dila adalah anak sahabat ayah. Ia juga tahu bagaimana kisahku sejak kecil. Ia juga tempat bercerita, sudah seperti saudara sendiri.

***

Dengan berat hati, aku lakukan demi ayah. Di tengah derai tawa mereka, aku duduk di ujung meja. Suasana canggung kembali, aku benci atmosfer ini. Percakapan demi percakapan sangat kaku, mengingat bagaimana hubungan kami selama ini.

Di sela-sela kecanggungan yang tiada habisnya, ayah membuka takjil yang membuat aku berkaca-kaca: kue coklat dengan taburan keju, sederhana saja, kue yang sering dimakan. Bedanya, coklat yang digunakan adalah buatan ibuku sendiri. Ini adalah favoritku, hanya ibu yang pandai membuatnya. Setiap puasa, takjil satu ini akan laris dijual, orang-orang di lingkungan bahkan merindukan kue coklat itu. Hingga hari ini, resep itu tetap dirahasiakannya, katanya hanya aku yang boleh tahu suatu hari nanti. Karena perasaan yang bercampur aduk, aku tak menyadari siapakah yang berhasil menciptakan kue rumit ini. Bahkan coklatnya saja harus dibuat dulu secara khusus.

“Ini adalah buatan ibu, aku harap kau suka,” ucap wanita di samping ayah, membuat gemuruh di dadaku berubah. Aku berusaha menguasai diri dan bertanya, “Dari mana kau tahu cara membuatnya?”

“Ibu menemukan catatan resep di kamar.”

Aku baru menyadari, ibu meninggalkan resep untukku, tapi terlambat menyadari. Ah sungguh malang. Rahasia emas ibu diketahui wanita ini. Egoku rasanya kembali setinggi gunung, tapi ucapannya membuatku mengurung ego yang hendak meletus.

“Ibu minta maaf, bersama saudarimu, mari kita hidup rukun bersama,” ucapnya berbinar, aku tak menyahut.

Ucapan Mbak Dila terngiang: aku harus menahan ego sambil menyantap takjil yang seharusnya manis, tapi hari ini terasa menelan batu. Demi Ayah yang selama ini tak mencintai kami, aku harus tetap baik.

Aku menghabiskan waktu berbuka dengan takjil yang dibuat dengan resep ibu. Peristiwa ini menyayat hati. Andai ibu di sini. Lebih menyedihkan lagi, setiap puasa, ibu selalu membuat ini untuk ayah, bahkan di ulang tahun pernikahan, tapi anehnya ayah tak pernah memuji, meski sekadar untuk membuat ibu senang. Ia hanya memakan sesuap, selebihnya ibu hanya menelan pedih.

Riau, 28/2/2025.

Tinggalkan Balasan