Tuhan Sudah Mati, Benarkah?

Ada salah satu ungkapan seorang filsuf asal Jerman yang bagi kebanyakan orang sangat kontroversial. Sebab, pernyataannya sangat bertentangan dengan apa yang diyakini oleh orang banyak. Filsuf itu bernama Friedrich Nietzsche.

Ia dikenal karena pernyataan kontroversialnya mengenai agama dengan mengatakan bahwa Tuhan sudah mati. Akibat pernyataan ini, banyak yang menganggap ia sudah gila atau seorang ateis yang tidak bertuhan. Padahal, pada kenyataannya yang ia lakukan adalah bentuk kepeduliannya kepada agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebenarnya ini sudah menjadi hal yang sangat lumrah bagi seorang filsuf, karena mereka selalu datang dengan pikiran-pikiran yang wah, dan terkadang sangat melenceng dari apa yang orang kebanyakan pikirkan. Namun, bukan berarti apa yang mereka sampaikan itu salah.

Jadi, setelah memahami latar belakang Nietzsche, kita kembali ke pertanyaan inti dari tulisan ini: apakah benar Tuhan sudah mati?

Sebenarnya apa yang ingin disampaikan oleh Friedrich Nietzsche bukanlah Tuhan mati secara fisik, seperti manusia mati pada umumnya. Bukan pula Tuhan kehilangan eksistensi-Nya. Sebab, sebagaimana yang kita yakini, Tuhan itu Maha Kekal dan mustahil bagi Tuhan untuk mati.

Karena itu, maksud dari frasa “Tuhan mati” adalah Tuhan yang ada pada keyakinan masyarakat Eropa yang lama kelamaan semakin memudar. Setiap tindak laku yang dilakukan oleh masyarakat sudah tidak didasari oleh Tuhan. Orang-orang tetap melakukan adat istiadat keagamaan Kristen, namun hal itu hanya dilakukan sekadar kebiasaan bukan karena didasari oleh keyakinan akan Tuhan.

Di zaman dahulu, orang Eropa masih kental akan agama. Setiap kejadian selalu dikaitkan dengan Tuhan, sehingga setiap perbuatan yang dilakukan memiliki nilainya masing-masing.

Dulu orang bisa melakukan kebaikan dengan tenang tanpa mengharap imbalan karena mereka sudah memiliki nilai sendiri dari perbuatannya. Namun, sekarang hal seperti itu sudah sangat sulit ditemukan, karena nilai Tuhan sudah tidak digunakan, digantikan oleh nilai manusia yang masih rapuh. Inilah yang dimaksud Nietzsche ketika ia mengatakan “Tuhan sudah mati” – bukan kematian Tuhan secara ontologis, melainkan kematian fungsi Tuhan dalam kehidupan moral dan sosial masyarakat.

Sebelum itu perlu kita ketahui bersama bahwasanya pemikiran filsafat sifatnya berbeda-beda sesuai dengan masanya. Jadi, pemikiran filsafat sifatnya tidak dapat terus digunakan begitu saja. Ia harus menyesuaikan di setiap zamannya, seperti pemikiran Nietzsche ini.

Pernyataan seperti ini bisa muncul di benak Nietzsche, sebab memang pada zaman itu kepercayaan seseorang akan Tuhan sudah mulai luntur. Nilai-nilai kebaikan agama yang dilandasi oleh kepercayaan pada Tuhan juga sudah mulai menghilang. Itulah yang menjadi latar Nietzsche memunculkan pemikiran kontroversialnya sebagai bahan sindiran supaya orang-orang sadar. Dalam kondisi ini akan ada dua macam orang: mereka yang bisa membangun nilai sendiri, atau mereka yang tetap melakukan rutinitas meski tanpa nilai keagamaan.

Kembali lagi pada pertanyaan awal: apakah benar Tuhan sudah mati? Menurut pemahaman yang benar atas pernyataan Nietzsche, jawabannya adalah tidak. Tuhan tidak mati secara hakiki. Yang mati adalah keyakinan manusia kepada Tuhan. Yang mati adalah fondasi moral yang dulu bersumber dari keimanan yang hidup.

Nietzsche tidak pernah bermaksud menyatakan bahwa Tuhan secara ontologis tidak ada atau Tuhan mengalami kematian sebagaimana makhluk fana. Ia justru sedang memperingatkan bahaya dari masyarakat yang masih menjalankan ritual agama namun hatinya sudah kosong dari iman. Dalam konteks inilah kita bisa memahami bahwa pernyataan Nietzsche sebenarnya adalah bentuk kritik sosial dan kepedulian terhadap nasib moral umat manusia, bukan serangan terhadap ketuhanan itu sendiri.

Ibaratnya begini: iman kepada Tuhan itu adalah fondasi, di atasnya adalah segala kebaikan mulia yang diajarkan pada setiap agama. Jika iman kuat, fondasinya kuat, sehingga apa yang ada di atasnya akan kokoh.

Mungkin kita di sini pernah merasakan rasa tenang dan damai ketika melakukan hal-hal baik. Sebab, di sana kita sudah membangun nilai yang kuat. Namun jika fondasi yang kita bangun itu rapuh, nilai atas setiap perbuatan kita ikut rapuh atau bahkan tidak ada. Yang terjadi adalah bangunan yang di atasnya akan roboh.  Hal itu sama seperti kita melakukan kebaikan tapi tanpa nilai. Kita tidak akan merasakan ketenangan dan kejelasan dari tindakan yang kita lakukan.

Contoh saja sedekah: orang yang sudah memiliki fondasi keyakinan yang kuat akan lapang dada memberikan uangnya yang banyak kepada orang yang membutuhkan, kepada orang yang kepepet, orang yang kesusahan, tanpa mengharapkan imbalan sepeserpun dari orang lain. Sebab, ia sudah mendapatkan imbalan tersebut dari Tuhan saat bersedekah. Berbeda jika ia tidak punya fondasi keyakinan kepada Tuhan dan agama. Maka, sedekahnya akan terasa berat, penuh perhitungan, atau sekadar pamer.

Jadi, Tuhan itu tidak benar-benar mati dalam arti kehilangan eksistensinya. Tuhan mati dalam kepercayaan orang-orang yang mengakibatkan kehilangan nilai dari setiap tindakan baik yang mereka lakukan. Sehingga, mengharuskan setiap orang untuk bisa membangun nilainya sendiri atau tetap menjalani rutinitas seperti adat biasanya tanpa nilai sama sekali yang dipegang.

Nietzsche merasa sangat kasihan pada tipe yang kedua ini. Dan, inilah yang menjadi alasan Nietzsche menyatakan sebuah ungkapan kontroversialnya. Sebab, dengan tiadanya kepercayaan kepada Tuhan, orang-orang sudah seolah tak bergairah untuk melakukan berbagai kebaikan sebagaimana abad-abad sebelumnya.

Dengan demikian, Nietzsche tidak asal-asalan dalam memilih kata-kata. Ia sengaja memilih ungkapan yang paling keras, paling mengejutkan, dan paling mudah disalahartikan. Tujuannya, agar telinga orang-orang yang sudah tuli karena kebiasaan bisa mendengar lagi. Ia ingin mengatakan bahwa keadaan darurat sedang terjadi. Manusia sedang kehilangan kompas moralnya. Dan jika tidak segera disadarkan, mereka akan hidup seperti mayat yang berjalan: tubuhnya hidup, jantungnya berdetak, mulutnya berdoa, tapi jiwanya mati.

Coba bayangkan, pada abad-abad sebelumnya orang melakukan kebaikan karena sungguh-sungguh percaya bahwa Tuhan melihat dan Tuhan membalas. Mereka bersedekah dengan hati yang lapang, mereka berbuat jujur karena takut kepada Tuhan, mereka menolong sesama karena merasa itu perintah Tuhan. Sekarang? Banyak orang masih melakukan hal yang sama persis, tapi bedanya mereka tidak lagi percaya ada yang melihat. Mereka sedekah biar dilihat orang, mereka jujur karena takut ketahuan, mereka menolong biar dipuji. Sekilas sama, tapi bedanya seperti langit dan bumi. Yang dulu mengalir dari iman yang hidup, yang sekarang hanya gerakan mekanis dari kebiasaan yang mati.

Friedrich Nietzsche melihat ini dan hatinya miris. Ia bukan orang yang benci agama. Justru karena peduli, ia berani mengatakan hal yang tidak berani dikatakan oleh para pendeta sekalipun. Para pendeta mungkin akan berkata dengan lembut, “Ayo perkuat imanmu.”

Tapi Nietzsche tahu bahwa kata-kata lembut sudah tidak mempan. Maka ia berteriak, “Tuhan sudah mati!” Bukan karena ia senang, tapi karena ia ingin orang-orang tersentak, terbangun, dan bertanya kepada diri mereka sendiri, “Apakah aku masih benar-benar beriman, atau aku hanya sedang menjalankan rutinitas kosong?”

Pada akhirnya, yang ingin disampaikan oleh Friedrich Nietzsche adalah sebuah tanggung jawab besar kepada setiap manusia. Karena jika Tuhan sudah mati dalam kepercayaan mereka, maka tidak ada lagi yang bisa diandalkan kecuali diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa lagi berlindung di balik kata “itu sudah tradisi” atau “semua orang juga begitu”. Mereka harus berani jujur kepada diri sendiri: apakah mereka masih punya iman yang hidup, atau selama ini hanya pura-pura?

Jika masih punya iman, maka hidupkanlah iman itu sehingga setiap kebaikan yang dilakukan kembali bermakna. Jika iman itu sudah benar-benar mati, maka jangan pura-pura hidup seperti dulu, karena itu hanya akan membuat hidup menjadi lebih hampa. Lebih baik jujur mengakui bahwa iman sudah mati, lalu dengan keberanian membangun nilai sendiri dari nol, daripada terus hidup dalam kepalsuan yang perlahan-lahan membunuh jiwa.

Multi-Page

Tinggalkan Balasan