Kita sering mendengar berbagai narasi mengenai minat baca Indonesia yang rendah. Terutama di social media, narasi ini semakin berkembang dan secara luas mulai diyakini sebagai alasan mengapa tingkat literasi di Indonesia sangat rendah.
Data yang sering beredar dari UNESCO menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya, dari 1.000 orang Indonesia, cuma 1 orang yang rajin membaca.

Kita sering disalahkan karena lebih senang doom scrolling di media sosial. Padahal tanpa disadari, ada satu variabel penting yang luput dari pengamatan, yaitu tentang harga buku yang mahal. Variabel ini sangat berpengaruh karena kita tak bisa menyangkal pengaruh suatu kebijakan ekonomi yang sifatnya sistemik.
Di samping itu, Indonesia memiliki keinginan untuk menuju masa emasnya dengan menggaungkan narasi Indonesia Emas 2045. Sayangnya, visi ini rasanya tak dibarengi dengan langkah kebijakan-kebijakan signifikan yang mendukung. Salah satunya adalah mengenai isu harga buku mahal ini.
Sementara itu, kita semua paham bahwa ilmu pengetahuan yang berkualitas menjadi salah satu syarat mutlak agar suatu negara bisa maju. Tapi, kenyataan yang terjadi di sini adalah daya beli buku yang masih termasuk rendah. Bagaimana mungkin ingin menjadikan warganya cerdas secara kolektif jika banyak yang masih harus memilih antara membeli buku atau makanan?
Karena itu, saya rasa tiga masalah terkait hal ini dan argumennya penting untuk dibahas.
Buku sebagai Barang Mewah
Kita perlu melihat dulu kenapa buku bisa menjadi mahal di negeri ini. Secara garis besar, buku di negeri ini masih sebatas menjadi komoditas komersial daripada menjadi sebuah sarana edukasi publik. Walaupun sejak beberapa tahun lalu pajak untuk buku-buku pendidikan dan ilmu pengetahuan telah dihapus, namun sampai saat ini biaya produksi masih sangat membebani penulis dan penerbit. Efeknya, kuantitas buku yang dihasilkan Indonesia per tahun masih kalah jauh dengan negara-negara maju seperti Inggris dan Amerika. Belum lagi jika kita membicarakan biaya distribusi buku yang terkadang bisa mengalahkan harga buku itu sendiri.
