Rumah Impian

Di sini mula berkisah, Pak Giman yang fakir bersanding istri yang shabir, jauh dari mimpi besar yang senantiasa bergulir. Cobaan, bagi mereka yang tinggi iman tentu sangat besar, ibarat semakin pohon menjulang semakin kencang pula angin menerpa. Terlebih, dalam kehidupan rumah tangga. Cobaan istri penuntut, untuk suami yang sabar bersambut. Suami fakir, tentu juga menjadi cobaan istri yang legawa nrima wujud penerimaan takdir. Pun, kefakiran suami dilengkapi dengan kesabaran istri, menjadi sebuah anugerah tiada kira, bagi Pak Giman.

Pak Giman hanya buruh tani. Menggarap tanah orang lain. Menanam benih, merawat tanaman, memupuk-mengairi, hingga memanen bukan untuk dirinya sendiri, namun hasil melimpah untuk juragan, sang pemilik tanah. Pak Giman telah bekerja keras berpuluh tahun. Menanami hingga memanen bak tanah milik pribadi. Meski ia sadar, bahwa nyata penikmat terbesar bukan untuknya, tapi sang pemilik modal.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tanah garapan, hanya membisu. Bisunya seolah melayangkan opini, tentang ketakrelaan dikuasai, ketidakikhlasan nasib Pak Giman yang termonopoli. Opini tanah tentang keinginannya berdebat dengan sang juragan. Bahwa, tanaman tak bisa tumbuh berkembang, jika tak ada yang mengerjakan. Bahwa, Pak Giman lebih berperan hingga bulir-bulir panenan sampai di tangan. Tanah, tidak kuasa berpihak. Jika mampu, ia akan berkubu. Menjadi wadah sahaya yang siap terhunjamkan akar-akar, kemudian meninggi bersama buluh batang dan dedaunan, buah penggarapnya Pak Giman. Tanah bukan penguasa, tapi untuk dikuasai.

Setiap pagi, sehabis subuh, Pak Giman pergi untuk berlumur lumpur dan air keruh. Terik siang, tak peduli punggung dibanjiri peluh. Petang menjelang, Pak Giman kembali pulang dengan lelah yang sudah diasingkan. Semua, demi anak-istri, demi menanak nasi, demi biaya anak pamit tunaikan kewajiban belajar sebagai tuntutan negeri.

Keluarga Pak Giman tinggal di rumah sederhana. Batu bata hanya seperdelapan tingginya, selebihnya bambu gedek dan papan tripleks seadanya. Plesternya cukup hanya di ruang tamu saja, selebihnya adalah tanah yang menjadi saksi kecukupan seorang buruh tani. Di pintu depan, sangat jelas bekas piloks dari pihak desa, “Penerima Program Keluarga Harapan (PKH)”. Istri dan dua anaknya paham benar dengan kondisi bapaknya. Nasib yang mengimpit, tidak lekas membuat bersyukur menjadi sulit. Dua orang anaknya, Imam dan Siti begitu terangguk tanpa tertunduk, begitu Pak Giman menasihati, tentang penerimaan takdir dan syukur nikmat yang kabir.

“Fakir memang dekat dengan kafir. Nasihat bapak, jangan sekali kufur, dunia ini fana terukur, selanjutnya adalah kubur. Anakku, Imam dan Siti. Manusia terlahir tanpa busana sehelai pun, yang dibawanya adalah harga diri, yang akan meninggalkan jejak setelah mati. Sekolahlah biasa saja, pinter bisa keblinger, jika tidak disertai akhlak. Dan, akhlakmu itu akan menjadikanmu berharga atau tidaknya kelak”.

Keluarga Pak Giman menyembunyikan kesahnya. Berusaha menampakkan senyum, karena takut dianggap tidak bahagia dengan kehendak Sang Khalik. Biarlah, tetangga mencela, bagi Pak Giman kehidupan harus terus berjalan. Jika ditanya masa depan, dijawabnya masa depan adalah hari ini. Tentang kebahagiaan, tidak memerlukan cerahnya masa depan. Pak Giman sekeluarga pun bisa menikmati kebahagiaan hari ini. Bahagia tidak perlu diraih, ia hanya menunggu untuk dicumbu. Untuk bahagia, kenapa harus tunggu nanti. Pak Giman terus membimbing keluarga sederhananya untuk menemukan bahagia melalui hati, bukan pada materi. Bahagia bukan untuk diukur, dipersoal, atau dipertanyakan. Pak Giman menjawabnya dengan senyuman, tanpa kata. Senyum pertanda bahagia, dengan kesahajaan, maka senyum penuh makna menjadi teramat berharga.

Hari ini, siang begitu terik. Matahari seolah sedang marah. Cahanya begitu menyengat kulit. Pak Giman sesekali istirahat di gubuk sembari menenggak air rebusan kuali yang dibawa istrinya tadi. Ia mendongak ke atas, pikirannya tersudut pada gubuk tempatnya singgah sejenak. “Rumahku surgaku,” ia bergumam berkali-kali,

Seperti mendapatkan sebuah wangsit, tidak terlalu sore Pak Giman sudah pulang. Ditemui keluarganya, dimintanya berkumpul di ruang tamu, dan rembukan kecil ini pun dimulailah.

“Terima kasih sebelumnya, pada istri dan anak-anakku. Bapak ingin mengutarakan sesuatu, yang selama ini mengganjal. Menjadi ganjil jika bapak pendam. Maka dengarlah…”

Tinggalkan Balasan