Hampir di semua pondok pesantren pasti ada santri yang sulit untuk diatur. Mulai dari terlambat ke masjid, tidak mengikuti kegiatan dengan tertib, membantah pengurus, bahkan melakukan pelanggaran secara berulang. Santri-santri seperti itu sering dilabeli dengan santri “nakal”, “bandel” atau “tidak punya adab”.
Mereka, biasanya, terlihat tidak takut dan tidak peduli dengan berbagai hukuman yang akan didapatkan setelah melakukan pelanggaran. Sikap ketidakpedulian tersebut membuat pengurus semakin geram. Bahhkan, tidak sedikit pengurus yang akan angkat tangan dengan sikap mereka.

Namun, pernahkah kita merenung, bertanya lebih jauh, apakah semua pelanggaran itu murni lahir dari kenakalan mereka sendiri?
Mungkin di balik perilaku yang tampak mengganggu, terdapat luka yang tidak terlihat. Di balik ketidakpedulian, ada hati yang memberontak. Sebab, tak sedikit santri yang datang ke pesantren dengan membawa beban konflik keluarga yang telah lama mereka pendam.
Ada yang tumbuh di tengah pertengkaran orang tua. Ada yang tidak pernah tinggal dengan orang tua. Ada yang kurang perhatian atau suasana rumah yang selalu jauh dari kata nyaman. Mereka datang ke pesantren bukan hanya membawa pakaian dan kitab, tetapi juga membawa kekecewaan, kemarahan, dan kerinduan akan kasih sayang yang tidak selalu mereka dapatkan di rumah.
