Lomba Penulisan Biografi, Bukan “Barzanji”

Menelisik data, mengungkap fakta, menangkap fenomena. Itulah kelemahan utama dalam penulisan kita. Kita dalam hal ini, terutama, adalah penulis dari kalangan santri.

Itulah kenapa, banyak naskah yang dikirim ke redaksi duniasantri.co akhirnya tidak dirilis. Kebanyakan miskin data, juga kering akan fakta atau penangkapan fenomena. Bahkan penulisan untuk rubrik “Sosok”, misalnya, rata-rata isinya hanya puja-puji. Seperti barzanji. Padahal, yang ditulis untuk rubrik “Sosok” itu sejatinya adalah biografi versi mini. Bukan barzanji.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tulisan ini sekadar untuk mengingatkan para penulis yang mengikuti Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Dalam rangka Festival Dunia Santri 2026, jejaring duniasantri (JDS) menyelenggarakan Lomba Penulisan Biografi Orang-orang Pesantren. Selain berhadiah total jutaan rupiah, naskah-naskah yang diikutkan lomba akan dibukukan. Batas akhir pengiriman naskah 15 Juli 2026 klik di sini.

Saya sudah sempat membaca beberapa naskah. Dari yang sudah saya baca itu, kesan pertama, bukan tulisan biografi. Lebih mirip tulisan “barzanji”. Hanya penuh dengan puja-puji. Nyaris tak ada penelisikan datanya, pengungkapan fakta-faktanya, atau penangkapan fenomenanya.

Misalnya, ujuk-ujuk tokohnya disebut memimpin sebuah pesantren; orang yang ikhlas dan cocok untuk menjadi pemimpin; orang yang berilmu, alim, dan zuhud; orang yang dermawan dan memiliki kepedulian pada umat; bahkan orang keramat atau sakti; dan lain sebagainya, tanpa menelisik atau menelusur riwayat hidupnya, tanpa menjelaskan bagaimana ikhtiar hidup dan perjuangannya, tanpa menarasikan apa yang sudah dilakukannya. Nyaris seluruhnya hanya penilaian, bahkan anggapan.

Tinggalkan Balasan