Mengapa AI Tidak Boleh Jadi Dai

Kemunculan sosok “Ustazah AI” memunculkan perdebatan yang cukup keras di ruang publik. Sebagian menyambutnya sebagai inovasi baru syiar dan dakwah yang mampu menjangkau generasi digital dengan cara yang lebih menarik. Sebagian lain justru menolaknya mentah-mentah.

Alasannya beragam, mulai dari kesalahan AI ketika melafalkan ayat Al-Qur’an misalnya surat al-Ahzab ayat 21 hingga anggapan bahwa AI tidak memiliki sanad keilmuan sehingga tidak layak berbicara tentang agama.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Perdebatan ini sebenarnya menarik. Bukan semata karena menyangkut teknologi, melainkan karena memperlihatkan bagaimana masyarakat sering kali lebih cepat menghakimi medium daripada substansi.

Benar bahwa terdapat video AI yang salah membaca ayat Al-Qur’an. Kesalahan seperti itu tentu tidak boleh dianggap sepele. Al-Qur’an memiliki aturan bacaan yang ketat dan tidak bisa diperlakukan seperti teks biasa. Kritik terhadap kesalahan tersebut merupakan bentuk tanggung jawab ilmiah dan keagamaan.

Namun, apakah satu kesalahan otomatis menjadi alasan untuk menolak seluruh pemanfaatan AI dalam dakwah?

Jika menggunakan logika yang sama, maka setiap pendakwah yang pernah keliru juga semestinya tidak lagi diberi ruang berbicara. Faktanya tidak demikian. Para ulama sejak dahulu pun mengenal konsep koreksi (taṣḥīḥ), klarifikasi, bahkan rujukan silang terhadap pendapat-pendapat yang dianggap kurang tepat. Kesalahan bukanlah akhir dari sebuah proses belajar.

Tinggalkan Balasan