Festival Dunia Santri 2026: Terima Kasih, Gus Muwafiq

Gus,

Surat ini saya tulis bukan untuk memuji panjenengan. Saya justru khawatir, pujian sering kali hanya berhenti pada kata-kata, sementara rasa terima kasih seharusnya lahir dari perenungan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Setelah dua hari kami, keluarga besar jejaring duniasantri (JDS), bermalam dan menyelenggarakan rangkaian ketiga Festival Dunia Santri 2026, pada 9–10 Juli 2026, di Pondok Pesantren Minggir, Sleman, Yogyakarta yang panjenengan rintis dan asuh, saya pulang membawa lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.

Selama dua hari itu, panjenengan membuka pintu pesantren selebar-lebarnya. Bukan hanya halaman dan ruang-ruangnya, melainkan juga kehangatan yang membuat kami merasa tidak sedang bertamu, melainkan pulang ke rumah sendiri. Hingga seluruh rangkaian acara usai, rasanya kami belum sempat membalas apa pun atas keluasan hati dan kerendahan budi panjenengan. Maka, melalui surat sederhana ini, izinkan saya menyampaikan satu kalimat yang paling jujur: terima kasih, Gus Muwafiq.

Namun, ada satu hal yang terus mengusik pikiran saya sejak pertama kali menjejakkan kaki dan bermalam di pesantren panjenengan. Bukan semata tentang bangunan pesantren, bukan pula tentang ramainya Festival Dunia Santri 2026. Yang terus memanggil-manggil ingatan saya justru nama tempat itu sendiri: Minggir.

Ya, Minggir ternyata bukan sekadar nama sebuah kecamatan di sebelah barat Sleman. Di balik hamparan sawah yang membentang hingga tepian Kali Progo, saya seperti menemukan selembar halaman yang tercecer dari sejarah panjang Tanah Mataram. Barangkali karena letaknya yang bertaut dengan kawasan Bukit Menoreh dan Sedayu, setiap kali membaca nama Minggir, ingatan saya selalu melompat ke lereng-lereng perbukitan itu.

Saya pun teringat kepada Ki Ageng Sedayu dalam cerita epik Api di Bukit Menoreh karya S. H. Mintardja. Saya tahu, itu sebuah roman sejarah, bukan kitab babad, apalagi arsip kerajaan. Namun, sastra memang memiliki caranya sendiri untuk menghidupkan masa lalu. Ia tidak selalu menghadirkan fakta, tetapi sering kali mampu menghadirkan suasana sebuah zaman.

Melalui tokoh Ki Ageng Sedayu, Mintardja menggambarkan kawasan Menoreh dan sekitarnya sebagai simpul penting Tanah Mataram: tempat para petani, prajurit, dan rakyat biasa ikut menyangga kehidupan kerajaan, dari memenuhi kebutuhan keraton hingga menjaga jalur-jalur pertahanan dalam pergolakan politik yang jejak akarnya dapat ditelusuri sejak masa Kesultanan Demak dan lahirnya Mataram Islam.

Ah, setiap kali mengenang kisah itu, ingatan saya juga tidak pernah benar-benar beranjak dari sosok Rara Pembayun. Tokoh dalam cerita silat yang pernah dipublikasikan di harian Kedaulatan Rakyat itu bukan sekadar pelengkap cerita, melainkan pengingat bahwa sejarah—atau setidaknya imajinasi tentang sejarah—selalu dibangun oleh perjumpaan antara keberanian, cinta, kesetiaan, dan pengorbanan.

Barangkali karena itulah, ketika kaki saya menjejak Minggir di tepian Kali Progo, saya tidak hanya melihat hamparan sawah yang menghijau. Saya seolah melihat sisa-sisa ingatan panjang tentang masyarakat yang sejak berabad-abad hidup dalam denyut sejarah. Mungkin nama mereka tidak pernah ditulis dengan huruf-huruf besar di halaman depan buku sejarah, tetapi melalui tangan para petani yang mengolah tanah, para santri yang menyalakan lampu-lampu pengajian, dan warga kampung yang menjaga gotong royong, sejarah sesungguhnya terus ditulis dari hari ke hari.

Dua hari kami berada di Pondok Pesantren Minggir, Gus. Dua hari yang mungkin bagi sebagian orang hanyalah jadwal kegiatan Festival Dunia Santri 2026: workshop jurnalistik, diskusi buku Menggali Api Pancasila karya Ngatawi Al-Zastrouw, dan pentas Malam Sastra Santri. Tetapi bagi saya, perjalanan itu lebih menyerupai sebuah ziarah. Bukan ziarah kepada makam, melainkan kepada harapan.

Tinggalkan Balasan