Alis dan Sriti di Mata Faisal

Saya membayangkan ada benang merah antara budaya peninggalan Hindu-Budha, masyarakat pedesaan yang berkarakter agraris serta napas keislaman. Dan jika benang merah itu terus ditarik, pasti akan sampai juga ke dunia pesantren.

Hikmah-hikmah atau ajaran-ajaran yang nilainya sangat dalam, namun disampaikan secara santai dan jenaka, juga merupakan karakter dari budaya pesantren. Maka tak heran jika cerita-cerita Si Kabayan, juga sebagian cerita pantun, sangat familiar di kalangan pesantren, khususnya pesantren-pesantren salaf. Kesaktian (seperti dalam cerita pantun) serta kejenakaan yang paradoks (seperti dalam cerita Si Kabayan) bukan sekadar wacana bagi orang-orang pesantren, namun sudah menjadi perilaku itu sendiri.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Dalam budaya pesantren dikenal istilah khariqul ‘adah, yang artinya perilaku aneh, nyentrik, dan kadang di luar perkiraan kebanyakan orang. Perilaku mahiwal ini dipunyai oleh kiai-kiai tertentu atau anak-anak kiai (yang biasanya nakal, malas mengaji namun gemar puasa dan berziarah ke makan wali).

Jika ada kiai atau anak kiai yang perilakunya seperti yang disebut di atas, masyarakat sekitar biasanya dapat memahami atau memaklumi, bahkan tak jarang menghormatinya sebagai orang “sakti” yang bisa memberikan berkah. Kadang keanehan atau kenyentrikan seperti itu diyakini sebagai proses menuju maqom tertentu dalam pencapaian spiritual, atau dianggap sebagai metode untuk menyampaikan sesuatu secara simbolik.

Banyak sekali kiai-kiai yang berperilaku aneh dan nyentrik, yang dalam menjalankan misinya memberikan pencerahan kepada masyarakat sering memakai logika atau perilaku paradoks ala Si Kabayan. Bukan hanya untuk urusan dakwah, tapi juga ketika harus mengambil keputusan atau memecahkan suatu masalah berat, baik dengan internal pesantren, dengan masyarakat sekitar, maupun dengan pemerintah. Sehingga, caina herang laukna beunang, yang berat kemudian menjadi cair, ketegangan tidak dilawan dengan ketegangan lagi. Kiai-kiai jenis ini pada dasarnya adalah mereka yang memahami budaya dan lingkungannya, yang memahami bahasa masyarakatnya, dan umumnya mempunyai apresiasi terhadap budaya dan tasawuf.

Sebenarnya sebutan kiai tidak selalu ada hubungannya dengan kealiman atau ketaatan seseorang. Juga tidak selalu ada hubungannnya dengan ilmu agama atau dunia kepesantrenan yang selama ini kita kenal. Sebutan kiai terdapat juga pada budaya yang sedikit banyak punya hubungan dengan dunia mistik.

Dalam tradisi Jawa, banyak benda-benda pusaka seperti gamelan, keris, pedang, tombak, kereta kencana sampai peralatan dapur dinamai kiai. Begitu juga dengan binatang-binatang piaraan yang dianggap keramat seperti gajah, kerbau atau kuda. Bahkan, sebutan kiai juga bisa ditujukan kepada pohon beringin, tempat-tempat angker seperti hutan atau bukit. Di keraton Yogyakarta dan Surakarta, semua benda pusaka dinamai kiai. Begitu juga dengan binatang piaraan. Kiai Slamet, misalnya, itu nama seekor lembu yang sangat dihormati.

Dengan demikian, sebutan kiai bukan hanya milik orang yang dianggap menguasai ilmu agama. Dalang, pemusik karawitan, penari tradisional, pendekar silat, dukun atau paranormal juga biasa disebut kiai atau kadang hanya disingkat “ki” saja. Sebutan kiai atau ki muncul sebagai bentuk penghormatan terhadap benda, binatang, atau manusia yang dianggap keramat dan diyakini bisa memberikan berkah.

Begitu juga sebutan kiai dalam dunia kepesantrenan. Sebutan kiai tidak hanya diberikan pada orang yang alim saja, namun lebih-lebih pada mereka yang telah mengabdikan hidupnya untuk orang banyak. Seorang yang berilmu agama tinggi namun tidak mau menerjunkan diri ke tengah masyarakat mungkin tidak akan pernah dipanggil kiai.

Dalam konteks ini, sebutan kiai menjadi semacam anugerah untuk seseorang yang telah menjadi tempat bertanya, tempat mengadu dan berlindung masyarakat di sekitarnya. Seseorang yang telah mampu mencerahkan masyarakatnya dalam banyak hal. Dan tentu saja pihak yang pantas memberikan anugerah atau gelar tersebut hanyalah masyarakat, bukan pemerintah, bukan universitas, bukan partai, bukan koran atau televisi, apalagi diri sendiri seperti yang banyak dilakukan dengan pede oleh para caleg atau calon kepala daerah belakang ini.

Tinggalkan Balasan