Pasca-Tambakberas, pesan tersebut layak dibaca bukan sekadar sebagai kutipan, tetapi sebagai etika organisasi. Politik NU seharusnya berakhir pada kemanusiaan, bukan berhenti pada perebutan jabatan.
Tambakberas dan Arah Baru NU

Dalam perspektif profetik, kekuasaan setidaknya harus mengandung tiga orientasi: humanisasi, liberasi, dan transendensi. Kekuasaan harus memanusiakan, membebaskan, sekaligus tunduk pada tanggung jawab moral dan ketuhanan. Karena itu, pekerjaan NU setelah Tambakberas justru baru dimulai.
Muktamar telah selesai, tetapi ujian terhadap independensi, integritas, dan relevansi NU terus berlangsung. NU harus membuktikan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak menghilangkan daya kritisnya; bahwa besarnya organisasi tidak mengurangi kepekaan terhadap kelompok rentan; dan bahwa tradisi pesantren dapat berjalan beriringan dengan tuntutan perubahan zaman.
Jika Cipasung mengajarkan NU bagaimana bertahan dari tekanan kekuasaan, maka Tambakberas harus menjadi pelajaran tentang bagaimana bekerja sama dengan kekuasaan tanpa kehilangan independensi.
NU tidak harus anti-pemerintah. NU juga tidak boleh menjadi kepanjangan tangan pemerintah. NU harus cukup dekat untuk bekerja sama, tetapi cukup merdeka untuk mengatakan tidak ketika kepentingan publik menuntutnya.
Pada akhirnya, Muktamar bukan hanya tentang siapa yang memenangkan kontestasi. Muktamar adalah tentang ke mana organisasi diarahkan setelah kontestasi selesai.
Karena itu, pertanyaan terpenting pasca-Muktamar Tambakberas bukan lagi siapa yang berkuasa di NU, melainkan untuk siapa kekuasaan itu digunakan.
Jika jawabannya adalah umat, bangsa, kemanusiaan, dan masa depan peradaban, maka Tambakberas benar-benar telah melahirkan arah baru NU.
Namun jika kekuasaan kembali berputar di sekitar kepentingan elite, transaksi, dan perebutan pengaruh, maka Muktamar hanya akan menjadi pergantian episode dalam politik organisasi.
Di situlah makna Cipasung dan Tambakberas bertemu: yang pertama mengajarkan pentingnya melawan tekanan kekuasaan; yang kedua mengajarkan pentingnya menjaga jarak dari godaan kekuasaan.
Dan bagi NU di abad keduanya, keduanya sama-sama penting.
