Apakah Keadilan Sosial Masih Menjadi Bahasa Bersama?

Pergeseran fokus dari substansi menuju identitas membuat ruang dialog semakin menyempit. Gagasan mudah ditolak bukan karena argumentasinya lemah, tetapi karena datang dari kelompok yang dianggap berbeda.

Di sinilah pemikiran Gus Dur menemukan relevansinya. Dengan membaca hubungan Islam dan Marxisme melalui orientasi perjuangan, ia menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak selalu menghalangi adanya kepedulian yang sama terhadap nasib manusia. Sementara Nancy Fraser mengingatkan bahwa perjuangan keadilan akan kehilangan arah apabila hanya berhenti pada pengakuan identitas tanpa disertai perhatian terhadap distribusi kesejahteraan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Keduanya membawa kita pada refleksi yang sama. Keadilan sosial seharusnya menjadi bahasa yang memungkinkan berbagai kelompok berdialog mengenai persoalan bersama, bukan sekadar menjadi simbol yang mengukuhkan identitas masing-masing.

Sebab pada akhirnya, kemiskinan tidak memilih agama, ketimpangan tidak membedakan afiliasi politik, dan keterbatasan akses terhadap pendidikan maupun layanan kesehatan dapat dialami oleh siapa saja.

Barangkali, tantangan terbesar kita hari ini bukanlah menemukan identitas politik yang paling benar, melainkan mengembalikan keadilan sosial sebagai titik temu berbagai perbedaan. Ketika perhatian kembali diarahkan pada manusia yang hidup di bawah berbagai bentuk ketidakadilan, sebagaimana diingatkan Gus Dur, maka perbedaan ideologi tidak lagi menjadi penghalang untuk membangun solidaritas. Sebaliknya, ia menjadi pengingat bahwa jalan menuju masyarakat yang lebih adil selalu dapat ditempuh dari beragam cara pandang, selama keberpihakan kepada manusia tetap menjadi tujuan utamanya.

Daftar Pustaka

Fraser, Nancy. 1995. “From Redistribution to Recognition? Dilemmas of Justice in a ‘Post-Socialist’ Age.” New Left Review 212: 68–93.

Tinggalkan Balasan