Di Indonesia, perjuangan kesetaraan gender dipelopori oleh Raden Ajeng Kartini, yang manaruh perhatian besar pada pentingnya pendidikan bagi perempuan sebagai wujud perlawanan terhadap ketidakadilan adat dan struktur sosial pada masa itu. Gagasan-gagasan progresif Kartini mengenai emansipasi perempuan disebarluaskan melalui surat-suratnya yang kemudian menginspirasi lahirnya kesadaran baru tentang hak dan peran perempuan dalam masyarakat.
Kenapa Fikih Klasik Bias Gender

Ada sejumlah faktor kenapa fikih klasik, ditinjau dari kacamata hari ini, terlihat bias gender. Pertama, pengaruh kontek sejarah dan politik.
Kitab-kitab fikih mulai dikembangkan pada masa pemerintahan Bani Umayyah dan Bani Abbasiyyah. Ketika Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkuasa, pusat pemerintahan dipindahkan dari Madinah ke Damaskus.
