Belakangan ini, istilah brain rot semakin sering muncul dalam berbagai perbincangan di media sosial. Istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang terlalu banyak mengonsumsi konten digital yang dangkal, berulang, dan minim nilai refleksi sehingga kemampuan fokus dan berpikir mendalam perlahan menurun. Meski awalnya populer sebagai istilah internet yang digunakan secara santai, fenomena ini sebenarnya menyimpan persoalan yang patut menjadi perhatian, terutama di kalangan pelajar.
Laporan Digital 2025 Global Overview Report menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata 7 jam 22 menit setiap hari untuk mengakses internet. Waktu yang begitu panjang menunjukkan bahwa kehidupan masyarakat, termasuk pelajar, semakin sulit dipisahkan dari dunia digital.

Di tengah derasnya arus video pendek yang terus bermunculan di berbagai platform media sosial, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: masihkah generasi muda memiliki ruang yang cukup untuk melatih fokus, membaca secara mendalam, dan berpikir kritis?
Saat ini, tidak sedikit pelajar atau mahasiswa yang memulai hari dengan membuka media sosial dan mengakhirinya dengan aktivitas yang sama. Berbagai konten berdurasi singkat terus berganti dalam hitungan detik.
Algoritma media sosial dirancang untuk mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin sehingga mereka terus menggulir layar tanpa sadar telah menghabiskan waktu berjam-jam. Akibatnya, aktivitas yang membutuhkan konsentrasi lebih panjang, seperti membaca buku, memahami materi pelajaran, atau menulis, sering kali terasa membosankan.
Fenomena ini tidak dapat dianggap sepele. Kemampuan fokus merupakan salah satu keterampilan penting dalam proses belajar. Ketika seseorang terbiasa menerima informasi secara cepat dan instan, otaknya akan lebih sulit bertahan pada aktivitas yang membutuhkan perhatian dalam waktu lama. Tidak heran jika banyak pelajar mengeluhkan sulit berkonsentrasi saat belajar, mudah terdistraksi, atau merasa tidak sabar ketika harus membaca materi yang panjang.
Lebih jauh lagi, brain rot juga berkaitan dengan kesehatan mental. Arus informasi yang datang tanpa henti dapat membuat seseorang merasa lelah secara mental meskipun tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Selain itu, media sosial sering menjadi ruang perbandingan yang tidak sehat. Pelajar atau mahasiswa dapat dengan mudah melihat pencapaian orang lain dan tanpa sadar mulai membandingkan dirinya sendiri. Jika hal ini terjadi terus-menerus, rasa cemas, tidak percaya diri, dan tekanan psikologis dapat muncul secara perlahan.
