ayah, saji-saji salamet telah
dipersembahkan pada kobaran dâmar
kambâng, biar tak perlu meminta
iba pada gugur bunga di setapak kota
Jate, 2024.

PANGARO
barangkali, ayah. kecemasan
kutitipkan pada kabut dâmar
kambâng. memberi harapan
pada harum asap kemenyan. kita
adalah doa–penjuru penghambaan.
biar sejenak kuramal jalan pulang
tertutup gelap dan hari-hari di almanak
kota asing hanyalah penantian. tak perlu
risau. doa salamet telah menjadi napas
bagi dada, menjadi nadi bagi jantung,
menjadi air bagi mata. segala riuh,
menaruh semisal mimpi pada jejak
yang tersisa. “bukan air mata, anakku,
semoga pangaro masih berjejak di
tanganku.” tak ada jalan untuk
air mata, sunyi telah membaca
mantra kemarau pada dinding
kamar persinggahan. menyimpan
bulan sabit pada talase–di bawahnya.
entah pada baris ke berapa mantra
itu merapalkan nasib. bismillah,
tanganmu, harapan. kakimu keinginan.
pulang dari kematian dan penantian.
Jate, 2024.
Catatan:
Cangkèr = cangkir
Teggu = Kebal
Salamet = selamat
Dâmar Kambâng = damar berarti lampu yang keluar dari api kecil. Kambâng yang berarti mengapung. Sedangkan, Dâmar Kambâng berari lampu kecil yang berwadah mangkuk, bersumbu pintalan kapas, dan diapungkan dengan bahan bakar minyak kelapa. Dâmar Kambâng merupakan pelengkap ritual di Madura. Mati dan menyalanya Dâmar Kambâng diyakini sebagai firasat.
Pangaro = beruntung.
