Era Post-Truth: Runtuhnya Tembok Pesantren

Di era post-truth, batas antara kebenaran dan opini menjadi kabur. Jean Baudrillard dalam karyanya Simulacra and Simulation (1981) memberikan pisau analisis yang tajam. Kita hidup di dunia di mana representasi (citra) dianggap lebih nyata daripada kenyataan itu sendiri. Inilah yang disebut hyper-reality.

Ketika seorang influencer hijrah mengunggah konten dakwah dengan sinematografi yang apik, musik latar yang menyentuh, dan kutipan ayat yang dipotong secara estetis, penonton cenderung memercayainya sebagai “kebenaran mutlak” karena keindahan kemasannya. Di sini, nilai kebenaran sebuah ajaran agama tidak lagi diukur dari kedalaman argumen teologisnya, melainkan dari berapa banyak jumlah likes dan shares.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Filsuf kontemporer Byung-Chul Han dalam bukunya The Expulsion of the Other (2016) menyebut fenomena ini sebagai hilangnya “sang liyan”. Kita hanya mengonsumsi informasi yang disukai oleh algoritma kita sendiri (echo chamber).

Akibatnya, agama di layar ponsel sering kali hanya menjadi pembenaran atas keinginan pribadi, bukan tantangan untuk memperbaiki diri secara substansial. Kiai yang memberikan nasihat pahit namun benar kalah populer dengan layar ponsel yang memberikan “validasi instan” atas kegelisahan kita.

Otoritas dan Amanah Ilmiah

Islam sangat menekankan aspek sanad sebagai bagian dari agama. Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mubarak yang dikutip dalam Muqaddimah Shahih Muslim. “Sanad adalah bagian dari agama. Jika tanpa sanad, maka siapa pun akan berkata apa pun yang dia kehendaki.”

Secara normatif, transmisi ilmu dalam Islam bukan sekadar transfer informasi (kognitif), melainkan transfer keberkahan dan keteladanan (afektif). Dalam pendekatan teologis, kiai dipandang sebagai “pewaris para nabi” (warasatul anbiya). Kewarisan ini menuntut integritas moral yang diuji oleh waktu, bukan sekadar popularitas sesaat.

Tinggalkan Balasan