Pengembangan ilmu farmasi bergantung pada alat epistemik yang terintegrasi, dengan Tuhan sebagai sumber tertinggi (Al-Attas et al., 1986). Panca indera berfungsi sebagai sarana observasi, mengamati gejala tubuh seperti denyut nadi atau reaksi alergi obat, sebagai pintu masuk ayat kauniyah.
Akal menjadi alat analisis, menganalisis data-data dalam kefarmasian, merumuskan dosis obat yang tepat, tapi dibatasi oleh tauhid agar tidak melanggar secara moral. Intuisi/Hati (qalb) memberikan perasaan moral, seperti mendeteksi penderitaan pasien secara empati di luar data klinis dan memastikan pengobatan berorientasi kemanusiaan (Al-Attas et al., 1986). Tuhan harus dianggap sebagai sumber tertinggi, semua alat dan prosedur praktik kefarmasian patutnya selaras pada wahyu agar dapat mencegah sekularisasi ilmu seperti di Barat.

Pendekatan-pendekatan ini menghasilkan farmasi yang tidak hanya efektif, tapi juga bermakna sakral dan memiliki nilai spiritual. Maqasid syariah (hifz al-nafs, maslahah, dar’ al-mafasid) digunakan sebagai kerangka untuk halal-thayyib, keadilan akses obat, dan pencegahan mudarat dalam inovasi farmasi modern (Sofyan et al., 2025).
Implikasi Ontologi
Ontologi Islam mentransformasi praktik farmasi dari komersial menjadi ibadah dengan memberlakukan etika penggunaan dan distribusi obat dengan amanah. Obat bukan sekedar komoditas melainkan obat harus diprioritaskan akses bagi fakir miskin (QS. Al-Ma’un), hal ini kritis terhadap paten obat mahal di Barat. Secara tanggung jawab sosial dan Kemanusiaan Islam, apoteker memandang pasien sebagai khalifah, bukan konsumen, mendorong pengobatan preventif berbasis fitrah. Meski pandangan Barat berfokus pada efisiensi, Islam mengintegrasikan efisiensi dan holistik. Misalnya, integrasi doa dengan obat untuk penyembuhan secara mental (ruh) dan fisik (jasad).
Implikasi ini sangat penting bagi profesi farmasi di Indonesia, di mana keadilan kesehatan menjadi mandat Islam, tidak hanya mementingkan bidang kesehatan secara duniawi saja.
Dengan demikian, ontologi Islam memahami tubuh sebagai kesatuan jasad-ruh-akal, bersumber dari ayat qauliyah, kauniyah, dan insaniyah, berbeda dengan pandangan Barat. Pendekatan ini menghasilkan ilmu farmasi yang etis, integratif, dan bertanggung jawab.
Sebagai mahasiswa farmasi, refleksi saya: profesi farmasi adalah amanah dari Allah SWT, di mana setiap obat membawa nilai kehidupan dan moral. Pendekatan ontologis ini mengajak kita melampaui teknik, menuju pengabdian spiritual bagi umat manusia.
