Humor atau Horor Demokrasi?

Padahal, seorang pakar komunikasi digital seperti Lim (2020), memberikan penjelasan, bahwa hari ini meme menjadi “bahasa baru masyarakat jaringan” yang berfungsi menegosiasikan kekuasaan melalui humor. Yang terkadang, kehadirannya bukan sekadar lelucon, melainkan alat warga untuk memotret absurditas sosial dan politik yang tak bisa dijelaskan lewat wacana formal. Maka tidak berlebihan jika meme hari ini menjadi cermin demokrasi digital yang jenaka, spontan, dan terlalu jujur untuk memberikan penyadaran.

Namun, lagi-lagi masalah muncul ketika ruang demokrasi di dunia maya tidak tumbuh seiring kedewasaan aktor politiknya. Banyak para elite masih memandang kritik, apalagi dalam bentuk jenaka, sebagai penghinaan pribadi, bukan ekspresi publik. Padahal, seperti dikatakan filsuf politik Martha Nussbaum (2010), demokrasi sehat membutuhkan “kemampuan untuk tertawa pada diri sendiri,” sebab humor adalah tanda keterbukaan dan empati terhadap pandangan lain. Ketika meme harus dihadapi dengan laporan polisi, bukan dengan tawa atau klarifikasi, itu pertanda kita sedang mengalami defisit kepercayaan diri dalam berdemokrasi. Dan meme sejatinya bekerja dengan logika “cermin retak” karena ia memantulkan kenyataan dalam bentuk yang terdistorsi agar kita bisa melihat kebenaran di balik absurditas.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tinggalkan Balasan