Dalam filosofi Jawa, ketupat lebaran yang selalu menjadi hidangan khas hari raya ini tidak hanya dimaknai sebagai hidangan makanan saja. Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari ngaku lepat. Ngaku lepat artinya mengakui kesalahan. Ngaku lepat ini bagian dari tradisi sungkeman yang menjadi implementasi mengakui kesalahan bagi orang Jawa. Prosesi sungkeman dengan cara bersimpuh di hadapan orang tua dengan memohon ampun, dan ini masih membudidaya hingga kini. Tradisi sungkeman ini mengajarkan akan pentingnya menghormati orang tua, bersikap rendah hati, memohon keikhlasan, dan ampunan dari orang lain, khususnya orang tua.
Dengan tradisi ketupat ini, masyarakat Islam di Jawa khususnya mempunyai nilai tersendiri dalam memaknai Idul Fitri. Mereka berkumpul dengan keluarga lalu melakukan halal bihalal atau tradisi maaf-maafan. Banyak di antara mereka yang menangis karena mengingat kesalahan dan dosa kepada orang tua atau bahkan mereka mengenang seseorang yang sudah pergi dahulu ke pangkuan sang Ilahi.

Namun pada Idul Fitri tahun ini, tidak banyak yang bisa kita lakukan karena masih dalam masa pandemi Covid-19. Kadang kita hanya bisa melakukan halal bihalal secara virtual untuk sekadar melepas rindu dan saling memaafkan serta meminta maaf. Namun hal ini tidak mengurangi nilai positif yang membudaya dalam merayakan Idul Fitri. Semoga dunia lekas membaik.
