Aku tahu Ibu selalu membaca langkahku,
bahkan ketika aku pura-pura tegar.
//2//

Ada rokok setengah padam di tanganku, Bu,
dan entah mengapa tatapannya
lebih jujur dari manusia mana pun
asap itu bertanya perlahan:
kau kabur atau membereskan?
Aku hanya diam
dan kembali menyalakan sebatang.
//3//
Di bawah jembatan itu, Bu,
bau kota menguar seperti harapan
yang kian hari membusuk.
Bunga yang kemarin kuletakkan di sana
kini terlihat seperti upaya kikuk
menipu busuk dengan wangi.
Maaf kalau ini terdengar bodoh,
tapi kadang aku mencoba merapikan dunia
padahal diriku sendiri masih berantakan.
//4//
Pada akhirnya, semua orang menyadari hal ini:
tidak ada yang menyimpan apa pun yang dimilikinya,
dan hidup hanyalah pinjaman tulang belulang.
—Pablo Neruda
Seorang pemikul karung lewat, Bu,
dan punggungnya seperti sedang berdoa tanpa suara.
Gesekan karung itu
terdengar seperti seseorang
yang mengingatkan dirinya sendiri
agar jangan roboh dulu,
meski ia tak tahu
apa benar ada tujuan di ujung sana.
Kadang aku merasa begitu juga:
berjalan bukan karena yakin,
tapi karena tidak punya pilihan lain.
Namun dunia tetap menggertak, Bu
dan aku harus kembali
menumpulkan giginya satu per satu.
//5//
Tadi sebuah kaleng bergulir, Bu,
bunyi berdentingnya seperti makian
yang lupa mencari lawan.
Entah kenapa suaranya
menyenggol sesuatu dalam diriku,
seperti ada bagian jiwaku
yang ikut kehilangan keseimbangan.
//6//
“Pacarkecilku tak akan mengerti:
pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.”
—Joko Pinurbo
Bu, terkadang aku cuma ingin tahu
kenapa dunia terasa berat sekali
padahal yang kulakukan
hanyalah menata hal-hal kecil
seperti menanyakan kabar
agar mereka tidak merasa sendirian.
Mungkin itulah kenapa aku pulang ke sini, Bu—
ke percakapan yang tidak perlu kuselesaikan sendirian.
Aku tertawa kecil di hadapanmu
seperti anak yang lupa sebentar
bahwa di luar sana dunia sedang sibuk bekerja.
Dan di sela tawa itu,
ada sesuatu yang diam-diam merapat ke dadaku:
beban yang selama ini kubawa,
yang selalu kau bilang jangan kutolak,
yang akhirnya kupahami sebagai
Beban suci.
