ISFAHAN DAN KERINDUAN

PELAJARAN MEMBAYANGKAN

Bayangkan saja
di matamu lautan luas terhampar,
pasang surut perasaanmu tak mengenal waktu.
Aku berunggun di pantai, sendiri menggigil,
terdampar oleh pelukan yang kau janjikan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Coba ulang-ulang hingga menyatu dengan ingatan.
Kita tidak sedang bertamasya, bukan?

Bayangkan saja
di rambutmu tersimpan pemakaman kecil,
yang kukunjungi setiap petang.
Aku berziarah, mengikhlaskan kepergian rindu,
menabur bunga mawar merah dan wewangian waktu.

Bayangkan saja
di hatimu berdiri rumah kosong terbengkalai.
Sesekali kubersihkan dengan puisi,
melewati perdu setajam pedang,
menyalakan api di dada harimau yang kesakitan.

Kekasih,
aku tak akan melipat jarak atau memotong waktu.
Penyair hanya membenci satu hal:
kehabisan tinta.

Bayangkan saja
di dadamu ada pegunungan salju yang sepi.
Malaikat Isrofil menjaga puncaknya,
syarat mendakinya hanya satu,
meniup sangkakala.

Hingga akhir zaman,
akankah kau masih membayangkanku?
Aku takut kau larut dalam angan
yang justru kuciptakan.

Apakah membayangkan itu jawaban keyakinan,
atau sekadar kerapuhan?

Andaikata Desember bukan bulan terakhir,
apakah Januari masih menjadi bulan pertama?
Meski sesungguhnya mereka sepasang pisah dan jumpa.
Meski sesungguhnya kita digariskan tidak bersama.

22 Desember 2023.

ISFAHAN DAN KERINDUAN

Di bawah kubah dan menara masjid Isfahan tersebar pecahan-pecahan cermin, masih hujan namun wajahmu telah jadi seribu bagian, dan aku mencintai setiap kepingan. Di antara singgasana Darius I dan Kambisus II ada cerita tentang cahaya yang pecah namun kembali seutuhnya. Kau adalah cahaya, sedangkan aku gulita ruang yang akhirnya menemukan alasan untuk menghilang, atau menyatu?

Bulan tampak malu seperti ngiau kucing pada sultan yang sedang berdoa menengadah pada langit yang indah. Kemudian ia melihat kita berpelukan di sekitar air mancur, untuk sejenak, ia berhenti berputar hanya untuk memastikan bahwa kita bukan sekadar fatamorgana yang tercipta dari kehausan para kafilah di jalur sutra.

Matahari terlambat datang dengan sengaja setelah meminta izin pada kaisar yang sedang membaca kisah dan kasih Laila pada Qais sewaktu dipisahkan oleh algojo-algojo kepastian. Dan kita berciuman mesra di sampingnya dengan sesekali saling kalung-mengalungkan, ia terbelalak tidak menduga, bahwa secepat itu kisah lain telah tiba.

2026.

MASIH BERJALAN

//1//

“Hatiku selembar daun:
Melayang jatuh di rumput.”
—Sapardi Djoko Damono

Ibu, kota ini cermin retak
yang mengingatkan wajahku
setiap langkah yang kutebar di trotoar
rasanya seperti dunia sedang menguji
berapa banyak luka yang bisa kusembunyikan
tanpa membuatmu khawatir.

Aku tahu Ibu selalu membaca langkahku,
bahkan ketika aku pura-pura tegar.

//2//

Ada rokok setengah padam di tanganku, Bu,
dan entah mengapa tatapannya
lebih jujur dari manusia mana pun
asap itu bertanya perlahan:
kau kabur atau membereskan?

Aku hanya diam
dan kembali menyalakan sebatang.

//3//

Di bawah jembatan itu, Bu,
bau kota menguar seperti harapan
yang kian hari membusuk.
Bunga yang kemarin kuletakkan di sana
kini terlihat seperti upaya kikuk
menipu busuk dengan wangi.
Maaf kalau ini terdengar bodoh,
tapi kadang aku mencoba merapikan dunia
padahal diriku sendiri masih berantakan.

//4//

Pada akhirnya, semua orang menyadari hal ini:
tidak ada yang menyimpan apa pun yang dimilikinya,
dan hidup hanyalah pinjaman tulang belulang.
—Pablo Neruda

Seorang pemikul karung lewat, Bu,
dan punggungnya seperti sedang berdoa tanpa suara.
Gesekan karung itu
terdengar seperti seseorang
yang mengingatkan dirinya sendiri
agar jangan roboh dulu,
meski ia tak tahu
apa benar ada tujuan di ujung sana.

Kadang aku merasa begitu juga:
berjalan bukan karena yakin,
tapi karena tidak punya pilihan lain.

Namun dunia tetap menggertak, Bu
dan aku harus kembali
menumpulkan giginya satu per satu.

//5//

Tadi sebuah kaleng bergulir, Bu,
bunyi berdentingnya seperti makian
yang lupa mencari lawan.
Entah kenapa suaranya
menyenggol sesuatu dalam diriku,
seperti ada bagian jiwaku
yang ikut kehilangan keseimbangan.

//6//

“Pacarkecilku tak akan mengerti:
pelangi dalam botol cintanya
bakal berganti menjadi kuntum-kuntum mawar-melati
yang akan ia taburkan di atas jasadku, nanti.”
—Joko Pinurbo

Bu, terkadang aku cuma ingin tahu
kenapa dunia terasa berat sekali
padahal yang kulakukan
hanyalah menata hal-hal kecil
seperti menanyakan kabar
agar mereka tidak merasa sendirian.

Mungkin itulah kenapa aku pulang ke sini, Bu—

ke percakapan yang tidak perlu kuselesaikan sendirian.

Aku tertawa kecil di hadapanmu
seperti anak yang lupa sebentar
bahwa di luar sana dunia sedang sibuk bekerja.

Dan di sela tawa itu,
ada sesuatu yang diam-diam merapat ke dadaku:
beban yang selama ini kubawa,
yang selalu kau bilang jangan kutolak,
yang akhirnya kupahami sebagai
Beban suci.

Bu,
hingga sekarang pun
aku belum menceritakan beban remeh itu.

24 November 2025.

MENGETIK WAKTU DAN PUISI

aku tidak menulis namamu
aku mengetiknya
dengan jari yang tahu betul
di mana letak hurufnya
dengan telinga yang masih
ingat betul tiap kliknya

ketika kemarau tinta dan buku lebat menghijau,
ada kawanan burung riang berkicau.

gugur daun bahasa, gagal lahirkan buah cinta
gundulkan ranting doa, gandul aku di ujungnya!

segala diksi tumpah ruah
jadi doa!
jadi nada!
jadi kata!
jadi noda!
tertampah pada kita

aku sudah lama mengetik dirimu
ribuan arsip rapi tersimpan
diawetkan pada folder bejubelan

sebagaimana sejarah bahasa
menyatukan perbedaan bangsa
banyak kata merangkai ulang tubuh kita
mula-mula jadi macam suara
Hindia?
Bernadya?
Hal?
atau silampukau?
era peradaban lagu dan pembiakan lugu
berkejaran dengan waktu

aku terus mengetik tanpa henti
semua adalah maya, semua yang nyata
dimana aku merindumu di sebuah cerita
dimana kau mengenalku pandai berkisah

semua puisi bermimpi di negeri jauh sana
di mana aku menuju taman, dimana kamu hanya diam

semua cinta diketik dengan spasi
cukup longgar dan waktu akan bergetar

semua rindu di-klik satu kali
lebat perasaan dibalak liar

dari kanal-kanal sastra
hingga koran-koran jawa
buat kita jadi basa-basi
kadaluarsa dalam karya pak sapardi.

2026.

KOCOK DADU

Nasibmu satu.
Aku dua.

Keberuntungan berpetak-umpet di kepala.
Lempar dadu tidak seperti tendang bola.

2026.

Tinggalkan Balasan