Jangan Lupakan Guru Ngaji di Kampung

Diamnya para alim ulama adalah pelajaran bagi siapa saja yang menyaksikan. Apalagi untaian kalam mutiara yang keluar dari beliau, tidaklah berbicara melainkan ada manfaat dalam ucapannya. Begitulah kharismatik bekerja. Namun, apakah terbesit dalam benak kita bahwa guru ngaji di kampung juga guru kita yang telah mengajarkan dzahir-dzahir syariat.

Guru Ngaji di Kampung

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Seperti yang pernah diutarakan oleh Alhabib Luthfi bin Yahya dalam suatu kesempatan, “Sejatinya orang yang amar makruf nahi munkar yang sesungguhnya adalah mereka para guru ngaji di musala-musala, guru madrasah di kampung-kampung yang mengajarkan pendidikan salat.”

Sekelas ulama besar Alhabib Luthfi bin Yahya saja memandang guru ngaji kampung dengan penuh hormat. Bagaimana dengan kita?

Jangankan menaruh hormat, kadang berjumpa di jalan saja pura-pura tidak melihat. Apakah demikian adab seorang murid kepada gurunya? Namanya mungkin tidak tersohor seperti ulama terkemuka atau bahkan setenar para dai muda yang berseliweran di media sosial. Namun, perannya sungguh besar sebagai peletak utama fondasi syariat dan bangunan keilmuan lainnya. Jika tidak melewati bibir pantai apakah kita akan sampai di tengah-tengah lautan, bahkan samudra sekalipun? Kurang lebih seperti itulah perumpamaan guru ngaji beserta perannya.

Tinggalkan Balasan