Jelmaan Yudhistira

Beliau tersenyum kecil. “Rugi di hadapan manusia belum tentu rugi di hadapan Gusti Allah.”

Aku memejamkan mata. Suara bapak perlahan berubah menjadi pengantar tidur yang paling menenangkan.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Tahun-tahun berlalu lebih cepat daripada yang kusadari. Hingga akhirnya memilih jalan yang sama sekali tidak pernah kubayangkan semasa kecil menjadi seorang penegak hukum. Bapak tidak banyak bertanya ketika aku menyampaikan keputusanku. Beliau hanya menepuk bahuku. “Sing adil, Nduk.”

Namun semakin dewasa, semakin kusadari bahwa keadilan bukanlah perkara sederhana. Di ruang sidang, kebenaran sering kali memiliki banyak wajah. Ada yang datang membawa bukti. Ada pula yang datang membawa kekuasaan. Dan tidak jarang, kekuasaan berbicara lebih lantang daripada kebenaran.

Di saat seperti itulah, suara bapak selalu terdengar samar di telingaku: “Kalau hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan, pilihlah yang benar…”

Aku belum tahu bahwa suatu hari nanti, nasihat itu akan menjadi penentu seluruh hidupku hingga akhirnya aku mengerti mengapa bapak begitu mengagumi Yudhistira.

Ruang sidang dipenuhi wartawan. Kilatan kamera menyambar dari berbagai arah. Berkas tuntutan berada tepat di hadapanku.

Beberapa malam sebelumnya, telepon tak henti-henti berdering. Ada yang membujuk. Ada yang mengancam. Ada pula yang menjanjikan jabatan lebih tinggi apabila aku bersedia “melihat perkara ini dari sudut pandang yang berbeda.”

Namun setiap kali keraguan datang, suara bapak selalu muncul: “Kalau hidup memberimu pilihan antara yang benar dan yang menguntungkan… pilihlah yang benar.”

Aku menarik napas panjang. Lalu membacakan tuntutan sesuai fakta yang ada. Aku tahu, keputusan itu mungkin akan membuat jalanku tidak mudah. Tetapi anehnya hatiku justru terasa ringan.

Ingatan tentang masalalu membuyarkanku saat tangan bapak menepuk bahuku pelan.  Aku tersenyum. “Aku memilih jalan yang Bapak ajarkan.”

Beliau mengernyit, masih belum mengerti.

“Aku menolak semuanya, dan perkataan bapak benar, yang paling sulit bukan mencari mana yang benar, tapi tetap memilihnya ketika semua orang menyuruh kita berpaling.”

Bapak tertawa pelan, tawa yang selalu kurindukan sejak kecil. Beliau mengusap kepalaku seperti dulu.

“Nduk, saiki bapak ngerti, cerita Yudhistira sing bapak dongengke saben bengi ora muspra.”

Mataku mulai basah. “Bapak…”

Beliau menggeleng pelan. “Bapak tidak pernah berharap kamu menjadi Yudhistira. Bapak hanya berharap, ketika dunia menyuruhmu menjual keadilan, kamu memilih tetap menjadi manusia.”

Aku menggenggam tangan beliau dan rasanya masih sama hangatnya, persis seperti ketika aku masih kecil. Akhirnya aku mengerti, yang dimaksud bapak dengan jelmaan dari Yudhistira bukanlah seseorang yang lahir sebagai seorang ksatria. Melainkan, seseorang yang berani membawa nilai-nilai Yudhistira ke dalam hidupnya. Seseorang yang memilih jujur ketika dusta terasa lebih mudah. Memilih adil ketika keberpihakan lebih menguntungkan.emilih hati nurani ketika dunia menawarkan harga untuk membelinya.

Di senja itu, ditemani secangkir teh hangat dan semilir angin yang memainkan daun-daun mangga, bapak tersenyum bangga.
Barangkali aku bukan jelmaan seorang ksatria. Namun selama aku menjaga kejujuran dan keadilan seperti yang beliau ajarkan, mungkin, sedikit demi sedikit, aku sedang berjalan di jejak yang sama.

Sumber ilustrasi: pinterest.

Tinggalkan Balasan