
Salah satu keistimewaan KH Imam Nawawi adalah produktivitasnya menulis. Catatan yang tersisa menunjukkan betapa luas cakrawala pikirnya. Beliau tidak hanya menulis tentang tafsir, fikih, atau tasawuf dalam nuansa Islami, tetapi juga mengupas isu-isu besar yang tengah menjadi perdebatan dunia: Imperialisme, Komunisme, Otoritarianisme, Kolonialisme, dan lain-lain.
Yang menarik, semua gagasan itu beliau tuliskan dengan aksara Arab-Pegon dalam bahasa Madura. Pegon, bagi beliau, bukan sekadar media tulis, melainkan alat perlawanan kultural. Ia menjembatani pengetahuan modern dan tradisi lokal. Dengan Pegon, Imam Nawawi menulis untuk kalangan santri dan masyarakat yang akrab dengan aksara tersebut, sehingga gagasannya tidak berhenti pada elit, melainkan menetes ke akar rumput.

Selain catatan ideologis, KH Imam Nawawi juga menulis syi’ir dalam bahasa Madura. Syi’ir itu merekam peristiwa-peristiwa penting, termasuk konflik sosial-politik di tingkat lokal.
Salah satunya adalah syi’ir tentang pergolakan antara Fatayat NU (Pemudi Nahdlatul Ulama) dengan Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia), sayap perempuan PKI. Syi’ir ini bukan sekadar karya sastra, tetapi dokumen sejarah yang mengabadikan bagaimana ketegangan ideologi besar (NU vs Komunisme) berkelindan hingga ke desa-desa.
Dengan gaya bahasa Madura yang lugas dan kritis, KH Imam Nawawi menuliskan keresahan kolektif zamannya. Syi’ir itu kini menjadi semacam “arsip alternatif” yang menyingkap dimensi lain dari sejarah 1950–1960-an, di luar narasi resmi negara.
