Kerap kali, orang mengukur kecerdasan dari ijazah atau gelar akademik. KH Imam Nawawi justru menempuh jalan sebaliknya. Ia tidak pernah bersekolah formal, tetapi luasnya cakrawala pikirnya membuat orang terkesima. Ia membuktikan bahwa pesantren adalah universitas kehidupan, tempat seorang anak desa bisa membangun horizon dunia.
Dari tangannya, pesantren tidak hanya mencetak ahli ibadah, tetapi juga intelektual yang kritis terhadap imperialisme, kolonialisme, dan segala bentuk ketidakadilan. Pemikirannya menunjukkan bahwa ulama pesantren bukan hanya penjaga tradisi, melainkan juga agen perubahan sosial.

Kini, naskah-naskah tulisan tangan KH Imam Nawawi masih tersimpan. Beberapa sudah diteliti oleh komunitas Ngenger.co, sebagian lain masih terserak di tangan keluarga dan santri. Tulisan-tulisan itu adalah jejak seorang ulama desa yang berpikir global.
Warisan beliau bukan hanya berupa pesantren yang masih berdiri di Karangharjo, melainkan juga naskah-naskah Pegon yang merekam dialektika besar abad ke-20. Melalui tulisan itu, kita bisa melihat bagaimana seorang ulama desa merespons isu global dengan bahasa lokal.
KH Imam Nawawi Kafrawi adalah contoh nyata bagaimana pesantren melahirkan intelektual yang membumi sekaligus mendunia. Dari Madura ke Silo, dari pesantren ke Pegon, dari syi’ir ke ideologi, beliau menorehkan jejak panjang yang layak digali kembali.
Di tengah gempuran digital, nama KH Imam Nawawi seakan mengingatkan kita bahwa pena dan aksara Pegon pernah menjadi senjata perlawanan, sekaligus warisan budaya yang tak ternilai.
