Krisis Kepemimpinan dan Masa Depan Indonesia

Lokomotif dan Gerbong Kepemimpiinan

Seorang presiden yang memiliki kapasitas yang mumpuni sekalipun tidak akan mampu bekerja sendirian, selayaknya lokomotif yang canggih juga membutuhkan gerbong yang mampu bergerak kearah dan dengan kecepatan yang sama. Oleh karena itu, sistem pendukung berupa menteri, birokrasi, teknokrat, kepala daerah, dan berbagai institusi negara juga harus memiliki kapasitas yang mumpuni.

https://www.instagram.com/jejaringduniasantri/

Sebagai contoh, seorang pemimpin yang memiliki visi 30 tahun, tapi jika sistem di bawahnya hanya bisa bekerja dengan horizon satu sampaai lima tahun, maka visi tersebut juga akan berubah menjadi program jangka pendek. Strategi akan berubah menjadi proyek, transformaasi akan berubah menjadi seremonial, dan agenda peradaban akan kehilangan subtansi dalam perjalananya.

Fenomena tersebut dapat diperburuk dengan praktik politik transaksional atau jual beli jabataan. Ketika distribusi jabatan lebih banyak ditentukan berdasarkan kepentingan koalisi, politik balas budi atau nepotisme daripada kompetensi maka posisi strategis dalam negara akan diisi oleh orang-orang yang inkompeten.

Pada dasarnya Indonesia memiliki semua yang dibutuhkan: bonus demografi, sumber daya alam, letak geografis yang strategis.  Namun, yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua potensi tersebut dikelola dengan kapasitas yang sesuai dengan kompleksitas tantanganya?

Oleh karena itu, Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang mampu berpikir lintas generasi. Pemimpin yang tidak hanya bertanya apakah kebijakan hari ini dapat mengamankan kursi 5 tahun ke depan, tapi pemimpin yang mampu membawa kemajuan bangsanya 30 sampai 50 tahun ke depan.

Solusinya adalah dengan menciptakan sistem politik yang mampu menciptakan pemimpin yang visioner. Pemilu tetap diperlukan, tetapi negara tidak boleh menjadi tawanan kalender elektoral. Pemerintah harus memiliki institusi perencanaan yang kuat, birokrasi profesional, sistem merit yang konsisten, serta kebijakan nasional yang memiliki kesinambungan lintas pemerintahan.

Pada akhirnya Indonesia emas bukan hanya tentang siapa yang memimpin saat ini. Tapi apakah pemimpin hari ini mampu mengambil keputusan yang membuat Indonesia tetap kuat ketika mereka sudah tidak berada di lingkaran kekuasaan.

Tinggalkan Balasan